Sunday, October 24, 2010

TERAPI KOGNITIF-BEHAVIORAL

Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) atau Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain (misalnya, hidup saya sengsara sehingga sulit untuk dapat
menentukan tujuan hidup saya). Selain itu, terapi juga memfokuskan pada upaya membelajarkan klien agar dapat memiliki cara berpikir yang lebih positif dalam berbagai peristiwa kehidupan dan tidak hanya sekedar berupaya mengatasi penyakit atau gangguan yang sedang dialaminya. Dengan kata lain, konseling kognitif memfokuskan pada kegiatan mengelola dan memonitor pola fikir klien sehingga dapat mengurangi pikiran negatif dan mengubah isi pikiran agar dapat siperoleh emosi yang lebih positif. Sedangkan Konseling Behavioral memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan klien, menentukan bentuk imbalan (rewards) yang dapat mendorong klien untuk melakukan tindakan tertentu, pemberian konsekuensi yang tidak menyenangkan, guna mencegah klien melakukan tindakan yang tidak dikehendaki.

Sejarah Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) dapat dilacak dari awal para perintis psikologi, kecuali untuk konseling kognitif. Apa yang dipraktikkan sekarang ini sesungguhnya telah dikembangkan sejak tahun 50-an dan 60-an. Memasuki tahun 70-an, para pemikir dan praktisi aliran kognitif dan perilaku (behavioral) berusaha menggabungkan kedua pendekatan tersebut sehingga menghasilkan Konseling Kognitif-Behavioral. Sejak tahun 80-an hingga sekarang ini, Konseling Kognitif-Behavioral telah berkembang dan memiliki daya tarik tersendiri karena telah terbukti efektivitasnya dan mampu memberikan pelayanan dalam waktu yang lebih singkat, dibandingkan dengan psikoanalisis atau psikoterapi tradisional lainnya.

Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) dapat digunakan dalam rangka membantu menangani berbagai masalah yang dihadapi individu: seperti : depresi, kecemasan dan gangguan panik, atau dalam menghadapi peristiwa hidup lainnya, seperti: kematian, perceraian, kecacatan, pengangguran, masalah yang berhubungan dengan anak-anak dan stres.

Dalam Terapi Kognitif-Behavioral (TKB), konselor dan klien bekerjasama untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang menyebabkan timbulnya gangguan fisik-emosional. Fokus dalam terapi ini adalah berusaha mengubah pikiran atau pembicaraan diri (self talk).

Proses Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) membantu klien dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan spesifik dari apa yang dia pikirkan dan menyebabkan timbulnya perasaan negatif dan menyakitkan. Setiap bentuk pemikiran yang menyimpang klien ini dapat mempengaruhi tingkat emosi dan perilakunya.

Dalam memperlakukan orang yang mengalami kesulitan psikologis, titik yang paling efektif untuk dilakukan intervensi adalah pada tingkat pikiran yang menimbulkan rasa sakit tersebut. Jika proses berpikirnya dapat berhasil dirubah, (misalnya asumsi, keyakinan, nilai-nilai), maka dengan sendirinya perubahan dalam emosi dan perilaku akan mengikutinya.

Berbagai teknik dan strategi behavioral therapy dapat digunakan untuk meningkatkan hasil perawatan (misalnya, teknik mengelola kemarahan, meditasi, latihan relaksasi, dan assertive training, dan sebagainya). Tidak seperti proses konseling tradisional umumya, Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) lebih memfokuskan pada hasil dan tujuan, termasuk didalamnya adalah hasil jangka pendek (segera) dari proses konseling yang sedang berjalan, yaitu tercapainya pengalaman positif klien yang relatif cepat dengan adanya kemajuan perasaan yang lebih lega dan daya tahan.

Berdasarkan hasil studi beberapa dekade belakangan ini, telah membuktikan bahwa Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) merupakan sebuah model sederhana yang sukses dan ampuh sebagai salah bentuk treatment psikologis. Saat ini Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) telah banyak diterapkan oleh para profesional di seluruh Amerika Serikat dan secara internasional.

“Jenis konseling ini adalah yang paling efektif dalam berurusan dengan individu-individu yang cerdas, rasional dan berkeinginan untuk memiliki gairah dan kenikmatan dalam hidup mereka” demikian menurut Beth Horwin, LPC, berdasarkan pengalamannya sebagai seorang therapist.

Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) merupakan proses terapi yang mengambil banyak bentuk, sedikitnya terdapat 60 variasi. Secara ringkas, Beth Horwin mengemukakan proses konseling kognitif- behavioral ini, sebagai berikut:

* Membantu klien dalam mengenali, menganalisis dan mengelola keyakinannya.
* Membiarkan klien bersandar pada memorinya, dan berusaha untuk memvalidasimya.
* Menempatkan dan menitikberatkan pada keyakinan klien, tentang siapa dirinya dan apa tujuan hidup dia di dunia ini
* Menjaga fokus pada upaya meningkatkan “kepuasan hidup secara menyeluruh”, bukan pada upaya penurunan emosi yang negatif
* Membelajarkan dan mendidik yakni memberikan kesempatan kepada klien untuk memeriksa/memguji kembali apa yang telah diucapkannya dengan kenyataan dirinya.
* Mengidentifikasi dan berbagai keterampilan praktis (misalnya, tentang penetapan tujuan dan pemecahan masalah).
* Melanjutkan untuk melakukan pekerjaan ini untuk waktu jangka panjang, setelah proses konseling selesai.

Terjemahan bebas dari tulisan: Beth Horwin, LPC, A Perspective on Cognitive Behavioral Therapy.

Sumber : akhmadsudrajat.wordpress.com

Read More......

Treatment Modalities dan Terapi

Narsisme merupakan seluruh kepribadian. Itu semua-meresap. Menjadi seorang narsisis adalah sama dengan menjadi seorang pecandu alkohol tetapi jauh lebih begitu. Alkoholisme adalah perilaku impulsif. Narsisis juga menunjukkan puluhan perilaku sembrono, beberapa dari mereka yang tidak terkendali (seperti kemarahan mereka, hasil dari mereka yang terluka kemegahan). Narsisme bukanlah sebuah panggilan. Narsisisme menyerupai depresi atau gangguan lain dan tidak dapat diubah sesuai keinginan.
Narsisisme patologis dewasa tidak lebih "disembuhkan" daripada keseluruhan kepribadian seseorang yang sekali pakai. Pasien adalah seorang narsisis. Narsisme adalah lebih mirip dengan warna kulit seseorang daripada pilihan ke salah satu mata pelajaran di universitas.

Selain itu, Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah sering didiagnosis dengan lainnya, bahkan lebih sulit ditangani gangguan kepribadian, penyakit mental, dan penyalahgunaan zat.
Cognitive-Behavioral Therapies (CBTs)
Para CBTs percaya bahwa pemahaman - bahkan jika hanya verbal dan intelektual - adalah cukup untuk mempengaruhi hasil emosional. Jika benar dimanipulasi, petunjuk verbal, wawasan, analisis kalimat standar yang kita selalu mengatakan pada diri kita sendiri ( "Aku jelek", "Saya takut tidak ada yang suka dengan saya"), dalam dialog dan narasi, dan mengulangi pola perilaku ( belajar perilaku) digabungkan dengan positif (dan, jarang, negatif) bala bantuan - cukup untuk menimbulkan efek emosional kumulatif sama saja dengan penyembuhan.
Teori-teori psikodinamik tidak percaya bahwa kognisi dapat mempengaruhi emosi. Mereka percaya bahwa jauh lebih dalam strata harus diakses dan dipelajari oleh kedua pasien dan terapis. Sangat paparan strata ini dianggap cukup untuk menimbulkan dinamika penyembuhan. Peran terapis adalah dengan menafsirkan materi diungkapkan kepada pasien (psikoanalisis) dengan membiarkan pasien untuk mentransfer pengalaman masa lalu dan menempatkan di di atas terapis - atau untuk secara aktif terlibat dalam menyediakan emosional yang aman dan lingkungan yang kondusif untuk memegang perubahan pada pasien.
Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa tidak ada terapi yang efektif dikenal dengan narsisisme ITU SENDIRI - meskipun beberapa terapi yang cukup berhasil sejauh mengatasi dengan beberapa efek berjalan (modifikasi perilaku).
Dynamic Psikoterapi
Atau psikodinamik Therapy, Psychoanalytic Psychotherapy
Yang bertentangan dengan pendapat umum itu TIDAK psikoanalisis. Ini adalah psikoterapi intensif DIDASARKAN pada teori psikoanalitik TANPA yang (sangat penting) unsur asosiasi bebas. Ini bukan untuk mengatakan bahwa asosiasi bebas tidak digunakan - hanya bahwa itu bukan pilar teknik dalam terapi dinamis. Dinamis terapi biasanya diterapkan untuk pasien yang tidak dianggap "cocok" untuk psikoanalisis (seperti Personality Disorders, kecuali Avoidant PD).
Biasanya, cara-cara yang berbeda penafsiran bekerja dan teknik lain yang dipinjam dari modalitas perawatan lainnya. Tapi materi tidak harus ditafsirkan hasil asosiasi bebas atau mimpi dan psikoterapis jauh lebih aktif daripada psikoanalis.
Perawatan ini adalah terbuka. Pada permulaan terapi terapis (analis) membuat perjanjian (suatu "Perjanjian") dengan dianalisis (pasien atau klien). Pakta mengatakan bahwa pasien berusaha untuk menjelajahi masalah tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan (dan bagaimana menjadi mahal). Hal ini seharusnya membuat lingkungan terapeutik jauh lebih santai karena pasien tahu bahwa analis di / yang dimilikinya tidak peduli seberapa banyak pertemuan akan diperlukan dalam rangka untuk memulai pembicaraan pokok menyakitkan.
Kadang-kadang, terapi ini dibagi ke ekspresif versus mendukung, tapi saya menganggap divisi ini sebagai menyesatkan.
Ekspresif berarti mengungkap (= membuat sadar) pasien konflik dan mempelajari / dia pertahanan dan resistensi. Analis menafsirkan konflik dalam pandangan baru dan pengetahuan yang diperoleh membimbing terapi terhadap resolusi konflik. Konflik, dengan kata lain, adalah "ditafsirkan pergi" melalui pemahaman dan perubahan pasien termotivasi oleh / pandangan-pandangannya.
Terapi suportif berusaha untuk memperkuat Ego. Premis mereka adalah bahwa Ego yang kuat dapat mengatasi lebih baik (dan di kemudian hari, sendirian) dengan eksternal (situasional) atau internal (naluri, drive) tekanan. Mendukung terapi berusaha untuk meningkatkan kemampuan pasien untuk menekan konflik (bukan membawa mereka ke permukaan kesadaran). Sebagai konflik yang menyakitkan ditekan - begitu pula segala macam dysphorias dan gejala. Ini agak mengingatkan behaviorisme (tujuan utama adalah untuk mengubah perilaku dan untuk menghilangkan gejala). Biasanya membuat tidak menggunakan pemahaman atau penafsiran (walaupun ada pengecualian).
Grup Terapi
Narsisis terkenal kolaboratif cocok untuk usaha apapun, apalagi terapi kelompok. Mereka langsung menilai orang lain sebagai potensi Sumber Narcissistic Supply - atau potensi pesaing. Mereka idealisir pertama (pemasok) dan merendahkan yang kedua (pesaing). Ini, jelas, sangat tidak kondusif untuk terapi kelompok.
Selain itu, dinamika kelompok terikat untuk mencerminkan interaksi para anggotanya. Narsisis adalah individualis. Mereka menganggap koalisi dengan penghinaan dan penghinaan. Kebutuhan untuk menggunakan tim kerja, untuk mematuhi aturan-aturan kelompok, menyerah pada moderator, dan untuk menghormati dan menghargai anggota lainnya sebagai sederajat - dirasakan oleh mereka yang akan memalukan dan merendahkan (kelemahan yang hina). Dengan demikian, sebuah kelompok yang berisi satu atau lebih narsisis cenderung berfluktuasi antara jangka pendek, ukuran sangat kecil, koalisi (berdasarkan "superioritas" dan penghinaan) dan wabah (acting out) dari kemarahan dan pemaksaan.
Narcissism dapat menjadi Sembuh?
Narsisis dewasa jarang dapat "sembuh", meskipun beberapa ahli berpendapat sebaliknya. Namun, yang lebih awal intervensi terapi, prognosis yang lebih baik. Sebuah diagnosis yang benar dan tepat modalitas pengobatan campuran pada awal masa remaja menjamin kesuksesan tanpa kambuh di mana saja antara satu ketiga dan satu setengah kasus. Selain itu, penuaan ameliorates atau bahkan vanquishes beberapa perilaku antisosial.
Mani mereka tome, "Personality Disorders in Modern Life" (New York, John Wiley & Sons, 2000), Theodore Millon dan Roger Davis menulis (hal. 308):
"Kebanyakan narsisis sangat menolak psikoterapi. Bagi mereka yang memilih untuk tetap di terapi, ada beberapa perangkap yang sulit untuk menghindari ... Penafsiran dan bahkan penilaian umum seringkali sulit untuk menyelesaikan ... "
Edisi ketiga dari "Oxford Textbook of Psychiatry" (Oxford, Oxford University Press, dicetak ulang 2000), memperingatkan (hal. 128):
"... (P) eople tidak dapat mengubah kodrat mereka, tetapi hanya dapat mengubah situasi mereka. Ada beberapa kemajuan telah menemukan cara untuk mempengaruhi perubahan kecil dalam gangguan kepribadian, tetapi manajemen masih terdiri sebagian besar membantu orang untuk menemukan jalan konflik kehidupan yang kurang dengan karakter ... Apa pun pengobatan yang digunakan, bertujuan harus sederhana dan cukup waktu harus diperbolehkan untuk mencapainya. "
Edisi keempat otoritatif "Review of General Psychiatry" (London, Prentice-Hall International, 1995), mengatakan (hal. 309):
"(Orang dengan gangguan kepribadian) ... menyebabkan kebencian dan bahkan mungkin keterasingan dan kelelahan dalam profesional kesehatan yang merawat mereka ... (hal. 318) jangka panjang dan psikoanalisis psikoterapi psikoanalitik telah dilakukan dengan (narsisis), walaupun mereka telah menggunakan kontroversial. "
Alasannya narsisisme dilaporkan berada di bawah dan penyembuhan lebih dari yang disebutkan adalah bahwa terapis yang sedang dibodohi oleh narsisis pintar. Kebanyakan narsisis adalah ahli manipulator dan mereka belajar bagaimana untuk menipu terapis mereka.
Berikut adalah beberapa fakta:
Ada gradasi dan nuansa narsisisme. Perbedaan antara dua narsisis dapat menjadi besar. Keberadaan kemegahan dan empati atau ketiadaan tidak sedikit variasi. Mereka serius dinamika prediksi di masa depan. Prognosis adalah jauh lebih baik jika mereka memang ada.
Ada kasus penyembuhan spontan dan "jangka pendek NPD" [lihat Gunderson's dan Roningstam kerja, 1996].
Prognosis untuk kasus NPD klasik (kebesaran, kurangnya empati dan semua) adalah tidak jelas sejauh baik jangka panjang, tahan lama, dan lengkap penyembuhan. Selain itu, narsisis yang sangat disukai oleh terapis.
NAMUN ...
Efek samping, co-morbid gangguan (seperti Obsesif-Kompulsif perilaku) dan beberapa aspek NPD (yang dysphorias, dimensi yang paranoid, hasil dari rasa hak, yang patologis berbaring) dapat diubah (menggunakan terapi bicara dan, tergantung pada masalah, obat-obatan). ini bukan jangka pendek atau solusi lengkap - tapi sebagian dari mereka memang memiliki efek jangka panjang.
The DSM adalah berorientasi administrasi penagihan dan alat diagnostik. Hal ini dimaksudkan untuk "rapi" atas meja psikiater. Gangguan Kepribadian sakit batasnya. Diagnosis diferensial didefinisikan secara samar-samar. Ada beberapa bias budaya dan penilaian [lihat kriteria diagnostik dari Schizotypal PD]. Hasilnya adalah kebingungan yang cukup besar dan beberapa diagnosa ( "co-morbiditas"). NPD diperkenalkan ke DSM pada tahun 1980 [DSM-III]. Tidak ada penelitian yang memadai untuk mendukung setiap melihat atau hipotesis mengenai NPD. Edisi DSM masa depan dapat menghapuskan sama sekali dalam kerangka sebuah cluster atau satu "gangguan kepribadian" kategori. Seperti itu, perbedaan antara DKH, BPD, AsPD, dan NPD adalah, dalam pikiran saya, agak kabur. Ketika kami bertanya: "Bisakah NPD dapat disembuhkan?" kita perlu menyadari bahwa kita tidak tahu pasti apa yang NPD dan apa yang merupakan penyembuhan jangka panjang dalam kasus yang NPD. Ada orang-orang yang secara serius mengklaim bahwa NPD adalah penyakit budaya masyarakat dengan determinan.
Narsisis di Terapi
Terapi, ide umum adalah untuk menciptakan kondisi untuk Diri Sejati untuk melanjutkan pertumbuhan: keamanan, kepastian, keadilan, cinta dan penerimaan - mirroring dan memegang sebuah lingkungan. Terapi seharusnya memberikan kondisi ini pemeliharaan dan bimbingan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (melalui transferensi, kognitif penandaan ulang atau metode lainnya). Para narsisis harus belajar bahwa pengalaman masa lalu tidak hukum alam, bahwa tidak semua orang dewasa yang kejam, bahwa hubungan dapat memelihara dan mendukung.
Kebanyakan terapis mencoba mengkooptasi para narsisis's inflasi ego (False Self) dan pertahanan. Mereka memuji narsisis, menantang dia untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya dengan mengatasi gangguan-Nya. Mereka mengajukan banding ke pencarian kesempurnaan, kecerdasan, dan cinta abadi - dan kecenderungan paranoid - dalam usaha untuk menyingkirkan kontraproduktif, merusak diri, dan pola perilaku disfungsional.
Dengan mengelus narsisis's kemegahan, mereka berharap untuk memodifikasi atau counter defisit kognitif, berpikir kesalahan, dan narsis itu korban-sikap. Mereka kontrak dengan narsisis untuk mengubah perilakunya. Beberapa bahkan pergi ke medicalizing tingkat gangguan, menghubungkan ke biokimia keturunan atau asal-usul dan dengan demikian "membebaskan" si narsisis dari rasa bersalah dan tanggung jawab dan membebaskan sumber daya mental untuk berkonsentrasi pada terapi.
Menghadapi kepala narsisis dan terlibat dalam politik kekuasaan ( "Saya pintar", "saya akan harus menang", dan seterusnya) adalah jelas tidak berguna dan dapat menyebabkan serangan amarah dan pendalaman narsisis's penyiksaan delusi, dibesarkan oleh penghinaan dalam pengaturan terapeutik.
Keberhasilan telah dilaporkan oleh 12-langkah menerapkan teknik (sebagaimana telah diubah untuk pasien yang menderita dari antisosial Personality Disorder), dan dengan modalitas pengobatan beragam seperti NLP (neurolinguistic programming), Skema Therapy, dan EMDR (Eye Movement desensitisasi).
Tapi, apa pun jenis terapi bicara, yang mengurangi nilai narsisis terapis. Nya dialog internal adalah: "Aku tahu yang terbaik, aku tahu semua itu, terapis kurang cerdas daripada aku, aku tidak mampu membayar tingkat atas terapis yang merupakan satu-satunya yang memenuhi syarat untuk memperlakukan saya (sebagai sama, tentu saja), saya benar-benar sebuah terapis diriku sendiri ... "
Sebuah litani diri dan fantastis khayalan kemegahan (benar-benar, pertahanan dan resistensi): "Dia (terapis saya) harus kolega saya, dalam hal-hal tertentu dialah yang harus menerima otoritas profesional saya, mengapa dia tidak akan menjadi temanku, setelah semua saya dapat menggunakan lingo (psiko-celoteh) bahkan lebih baik daripada dia? Ini kami (dia dan aku) terhadap dunia memusuhi dan bodoh (kebodohan-a-deux )..."
Lalu ada adalah: "Hanya yang tidak dia pikir dia adalah, menanyakan semua pertanyaan ini? Apakah mandat profesionalnya? I am a sukses dan ia adalah seorang terapis tak seorang pun di kantor kumuh, ia berusaha untuk meniadakan keunikan saya, dia adalah pihak yang berwenang, aku benci dia, aku akan menunjukkan kepadanya, aku akan mempermalukan dia, membuktikan bahwa dia bodoh, memiliki izin-nya dicabut (transferensi). Sebenarnya, dia patut dikasihani, nol, kegagalan ... "
Dan ini hanya dalam tiga sesi pertama dari terapi. Kasar ini dialog internal menjadi lebih bersifat mengutuk dan merendahkan sebagai terapi berlangsung.
Narsisis umumnya enggan untuk menerima pengobatan. Beralih ke obat-obatan adalah tersirat pengakuan bahwa ada sesuatu yang salah. Narsisis adalah kontrol aneh. Selain itu, banyak dari mereka percaya bahwa obat adalah "Equaliser besar" - itu akan membuat mereka kehilangan keunikan, keunggulan dan sebagainya. Kecuali mereka yang dapat meyakinkan menyajikan tindakan mengambil obat-obatan mereka sebagai "kepahlawanan", sebuah bagian dari perusahaan yang berani eksplorasi diri, yang membedakan fitur dan seterusnya.
Mereka sering mengklaim bahwa obat-obatan mempengaruhi mereka itu tidak berbeda dari orang lain, atau bahwa mereka telah menemukan yang baru, menarik cara menggunakannya, atau bahwa mereka merupakan bagian dari seseorang (biasanya sendiri) kurva pembelajaran ( "bagian dari pendekatan baru dosis "," bagian dari koktail baru yang memegang janji besar "). Narsisis harus dramatise hidup mereka untuk merasa berharga dan istimewa. Aut aut nihil unik - baik menjadi istimewa atau tidak akan sama sekali. Narsisis adalah ratu drama.
Sangat mirip di dunia fisik, perubahan membawa hanya melalui kekuatan luar biasa torsi dan kerusakan. Hanya ketika narsisis's elastisitas memberi jalan, hanya ketika dia terluka oleh kerasnya sendiri - hanya kemudian ada harapan.
Dibutuhkan tidak kurang dari krisis yang nyata. Perasaan bosan tidak cukup.

Read More......

Thursday, October 7, 2010

Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah, pecah/split, dan phrenia yang berarti jiwa. Karakteristik utama dari gangguan ini adalah pemisahan anatara pikiran, emosi dan perilaku orang yang mengalaminya. Tergolong dalam gangguan psikotik yang ciri utamanya adalah reality testing, suatu gangguan mental yang dianggap paling parah.
Secara umum gangguan jiwa dapat dibedakan menjadi Psikosa dan Non-psikosa. Psikosa ditandai dengan tidak adanya pemahaman diri (insight) dan ketidakmampuan menilai realitas. Psikosa masih dibagi dalam Psikosa Fungsional (terjadi karena gangguan fungsi system transmisi sinyal penghantar saraf/neurotransmitter dalam susunan saraf pusat otak) namun tidak ditemukan kelainan structural pada sel saraf otak tersebut. Dan Psikosa Orgnik, akibat kelainan pada struktur susunan saraf otak. Dapat disebabkan tumor, kelainan pembuluh darah otak, infeksi dan keracunan/intoxikasi NAZA dan zat lainnya.

Emil Kraepelin (1856-1926) menyebut gangguan ini dengan dementia precox, hal ini menekankan pada proses kognitif (dementia) dan onset pada masa awal (precox), pasien dengan gangguan ini memiliki deteriorasi (kemunduran) jangka panjang serta gejala klinis umum berupa halusinasi dan delusi.
Berbeda dengan Bleuler yang membantah adanya demensia pada skizofren (de berarti kurang/tidak ada, sedangkan mensia berarti kecerdasan) melainkan disharmoninya keinginan dengan pikiran. Bleuler membagi gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok: gejala primer; gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme (penderita kehilangan kontak dengan dunia luar, seakan hidup di dunianya sendiri dan tidak mengkhawatirkan yang terjadi di sekitarnya). Gejala sekunder merupakan manifestasi dari usaha penderita untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan primer. Gejala sekundernya berupa; waham, halusinasi dan gejala katatonik/gangguan psikomotor yang lain.
Pembahasan skizofrenia berdasarkan pada diagnosis DSM IV, terdapat beberapa simtom yang mungkin muncul sebagai manifestasi dari gangguan ini, yang dapat berbeda dari individu satu dengan lainnya, sehingga dikatakan bahwa skizofrenia dikatakan tidak memiliki simtom esensial. Skizofren juga dikatakan tidak memiliki gejala yang patognomonik (gejala yang khas, yang membedakannya dengan gangguan lainnya), bisa jadi gejala yang muncul pada gangguan ini muncul juga pada gangguan lain. Misalnya halusinasi pada orang yang menggunakan obat-obat tertentu.
Terdapat 6 kriteria menurut DSM IV (APA, 1994) yang harus diperhatikan, A-F, yaitu: Criteria A; halusinasi/delusi yang sangat menonjol, setidaknya dalam waktu sebulan. Davison & Neale (2001) menyatakan bahwa criteria ini dapat digolongkan dalam 3 kelompok: simtom positif (berupa tanda-tanda berlebihan yang pada orang kebanyakan tidak ditemukan, namun pada penderita skizo justru ditemukan), negative dan simtom lainnya. Yang termasuk dalam simtom positif adalah delusi/waham dan halusinasi.
Waham adalah keyakinan yang keliru, tetap dipertahankan walau dihadapkan pada cukup bukti tentang kekeliruannya. Dan tidak sesuai dengan latar pendidikan dan budaya orang yang bersangkutan. Sedangkan halusinasi adalah penghayatan (seperti perspsi) melalui panca indera dan terjadi tanpa adanya stimulus eksternal, misalnya seorang skizofren yang terlihat berbicara dengan orang yang di hadapannya, walau sebenarnya tidak ada. Jenis halusinasi yaitu visual, auditorik, olfaktori (penciuman), haptic (sentuhan/sensasi permukaan)dan halusinasi liliput. Halusinasi berbeda dengan ilusi, dimana terjadinya kekeliruan dalam mempersepsi simulus yang nyata. Criteria B: disfungsi social/pekerjaan. Criteria C: durasi 6 bulan/lebih. Criteria D: dinyatakan tidak termasuk dalam gangguan skizoafektif/gangguan mood. Criteria E: bukan karena penyalahgunaan obat/zat atau kondisi medis tertentu. Criteria F: memperhatikan ada/tidaknya gangguan pervasive.
Simtom negative adalah simtom yang deficit, perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh orang normal, namun tidak ditunjukkan oleh penderita. Antara lain: avolition/apathy (hilangnya minat pada rutinitas), alogia (sedikitnya kuantitas pembicaraan), anhedonia (ketidakmampuan memperoleh kesenangan, misalnya rekreasi, gagal menjalin hubungan dengan orang dekat, hilangnya minat berhubungan sexual), abulia (tidak mampu memikirkan konsekuensi dari tindakannya), asosialitas (gangguan buruk dalam hubungan sosial), afek datar (tidak mampu menampilkan emosi) dan afek yang tidak sesuai.
Kategori selanjutnya adalah disorganisasi, antara lain perilaku yang aneh, misalnya katatonia; pasien menampilkan perilaku tertentu berulang, pose tubuh yang aneh atau waxy flexibility, orang tertentu dapat membentuk pose tertentu dari tubuh pasien, yang akan dipertahankan dalam waktu yang lama.

PSIKOPATOLOGI
Penyebab pastinya belum juga diketahui, namun terdapat beberapa teori penyebab:
A. Teori Somatogenik:
 Keturunan: melalui gen yang resesif
 Endokrin: skizofren sering timbul saat pubertas, hamil dan puerperium.
 Metabolisme: kesalahan metabolisme (inborn error of metabolism).
 Susunan saraf pusat: kelainan saraf pusat menyebabkan gangguan neurotransmitter.
B. Teori Psikogenik
 Adolf Meyer: suatu maladaptasi
 Freud: kelemahan ego
 E. Bleuler: disharmoni jiwa/terpecah belah
 Stress psikologik: persaingan antar saudara kandung, hubungan yang kurang baik dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat.
C. Teori Sosiogenik
 Keadaan sos-ekonomi
 Pengaruh keagamaan
 Nilai moral dan lainnya.

Tipe skizofrenia dapat dibedakan dalam jenis-jenis sebagai berikut:
1. Tipe Hebefrenik/kacau (Disorganized)
2. Tipe Katatonik
3. Tipe Paranoid
4. Tipe Tak Tergolongkan
5. Tipe Residual
Tipe (kelompok) lainnya adalah tipe simpleks (sering timbul pertama kali pada masa pubertas, gejala utamanya kedangkalan emosi dan regresi kemauan. Karena kemunculannya sangat perlahan, sebagai contoh awalnya penderita kurang memperhatikan keluarganya/mulai menarik diri dari pergaulannya, semakin lama ia akan keluar dari pelajaran/pekerjaannya dan akhirnya menganggur dan jika tidak segera ditolong, besar kemungkinan menjadi pengemis, pelacur bahkan penjahat). Gangguan skizofreniform (episode skizofrenia akut, timbul secara mendadak dan seperti mimpi), skizofrenia laten, gangguan skizoafektif dan gangguan lainnya.

Read More......

ASSESMENT PERILAKU

Assesment klinis yang dulunya dikenal sebagai psikodiagnosis, merupakan proses pengumpulan informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang (Kendall, 1982). Assesment ini, tidak lain sebagai penunjang dalam pembuatan keputusan-keputusan dan berbagai tindakan (penyaringan & diagnosis, evaluasi & intervensi, riset,…).
Psikolog klinis mengases kekuatan/ kelemahan lingkungan sosial individual sekitar klien yang dapat mempengaruhi dan memberi efek terhadap pikiran, perasaan dan tingkah laku klien.

Selain, istilah psikodiagnostik dan assesment ataupun pengukuran (measurement) juga dikenal metode asssesment lainnya, yaitu Assesment centre. Penggunaan kata centre disini bukan dimaksudkan pada pusat, tempat atau badan, melainkan sebagai jenis metode dalam assesment. Sedangkan bila dilihat dari substansi pemeriksaannya, terdapat banyak jenis assesment dalam psikologi klinis yang bisa digunakan, seperti Assesment pemfungsian intelektual, Assesment Kepribadian, Assesment pemfungsian Neuropsikologis dan Assesment Perilaku.
Dalam Assesment Perilaku, lebih terpusat pada mengidentifikasikan perilaku spesifik klien atau sistem lingkungan yang mungkin membutuhkan perubahan. Lebih lanjut, mengenai apa dan bagaimana Assesment perilaku tersebut akan kami bahas dalam bab selanjutnya.
A. Pengertian
Dalam Kamus Psikologi, karya JP. Chaplin, dituliskan bahwa Behavioral merupakan istilah yang digunakan untuk membedakan pelbagai ilmu pengetahuan yang menggunakan metode-metode objektif dan memiliki tujuan-tujuan yang objektif, sebagai lawan dari jenis ilmu pengetahuan yang subjektif dan mentalistik. Seperti yang kami tuliskan sebelumnya, bahwa dalam assesment perilaku, pendekatan perilaku lebih terpusat dalam mengidentifikasi perilaku spesifik dari klien ataupun sistem lingkungan yang mungkin memerlukan perubahan. Dengan kata lain, assesment perilaku ini melakukan pendekatan yang lebih spesifik dan teliti dalam memeriksa kondisi atau situasi lingkungan yang mungkin memberi pengaruh maupun efek terhadap perilaku yang dimunculkan oleh klien. Assesor perilaku tentunya akan berupaya untuk mengidentifikasi adanya akibat (hasil) dari pengaruh resiprokal (timbal balik) tindakan orang-orang sekitar dan lingkungan fisik terhadap tingkah laku/perilaku klien yang mencerminkan adanya masalah.
Pengukuran Behavioral mencakup sejumlah tingkah laku objektif individu. Klinis menggunakan metode ini untuk menemukan tingkah laku yang bermasalah, untuk mengerti apa yang mempertahankan intervensi yang sesuai untuk mengubah tingkah laku ini.
B. Perbedaan Asessmen Perilaku dengan Asessmen Tradisional
Assesment perilaku yang dilandasi dengan pemikiran bahwa perilaku manusia merupakan produk (hasil) dari interaksi (resiprokal) yang bersifat kontinuitas antara pribadi dan situasi ini, memiliki 5 perbedaan dengan assesment tradisional sebagaimana yang dipaparikan oleh Kendall & NortonFord, yaitu:
a. Assesment perilaku memusatkan perhatian pada tingkah laku/ perilaku yang bisa langsung diamati dan gambaran lingkungan, sedangkan assesment tradisional menjadikan hal-hal yang langsung berhubungan dengan apa yang akan dihadapi oleh intervensi sebagai target assesmentnya.
b. Assesment perilaku bersifat spesifisitas. Dalam hal ini assesor perilaku mencatat perilaku, perasaan dan pikiran serta respon fisiologis klien dan pengungkapan spesifik situasi dimana respon muncul. Dari data yang spesifik inilah assesor dapat mengemabangkannya menjadi uraian komprehensif mengenai kliennya.
c. Pusat Assesment perilaku adalah mendapatkan sampel interaksi aktual klien, sedangkan dalam assesment tradisional digambarkan assesor perilaku sebagai penekanan tanda-tanda sifat kepribadian klien, psikodinamika/ kapasitas pribadi umum.
d. Dalam Assesment tradisional maupun assesment perilaku memiliki assesment yang berbeda dalam mengembangkan ukuran assesment.
e. Tidak hanya dalam strategi yanng digunakan untuk mengembangkan ukuran assesment namun, prosedur diantara keduanyapun berbeda. Assesor perilaku berusaha untuk mengumpulkan informasi assesment tidak hanya sebelum dan setelah, tapi juga selama intervensi berlangsung.

C. Macam-macam Metode Assesment Perilaku
Sebelum tahun 1970-an pengukuran behavior hanya mengukur tingkah laku yang dapat dilihat, mulai memasuki tahun 1970-an pikiran dan perasaan yang dilaporkan oleh klien juga termasuk bagian yang di ukur oleh behavior.
Ada beberapa assesmen perilaku yang umumnya dikenal, yaitu:
1. Observasi (pengamatan) Naturalistik
Metode ini merupakan salah satu metode assesmen dimana observer mengamati langsung perilaku atau apa-apa yang dirasakan klien secara actual. Klinisi mengobservasi klien dan mencatat frekwensi tingkah laku khusus tersebut dengan factor situasionalnya yang sesuai.
 Sebelumnya diseleksi tingkah laku yang ditargetkan, yaitu tingkah laku yang perlu diperhatikan.
 Observasi invivo: observasi dilakukan dalam konteks yang sebenarnya tempat tingkah laku yang menjadi target terjadi.

2. Pemantauan Diri
Metode ini merupakan metode assesment dimana klien bertindak sebagai pengamat atas tindakan dan interaksinya. Metode pemantau diri ini menuntut klien untuk dapat membedakan perilaku, pikiran atau perasaan tertentu yang dialami, dan segera mencatat data sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk yang memungkinkan dalam assesmen dan intervensi. Atau dengan kata lain metode pemantauan diri menekankan pencatatan segera respon-respon spesifik. Metode ini lebih bersifat ekonomis, terpusat dan lebih cepat, daripada pemantauan oleh pengamat eksternal, meskipun bias-bias pribadi dapat mengganggu observasi yang akurat
3. Laporan Diri Situasi Spesifik Oleh Klien
Metode ini lebih bersifat retrospektif (menghayati keberadaan diri) dan sumatif, menyadarkan pada daya ingat diri akan pola umum perilakunya. Pusat perhatian dan observasi pada laporan diri adalah perilaku spesifik yang terjadi dalam perankat spesifik sehingga metode ini memiliki nilai akurasi yang tinggi. Pengukuran ini juiga berkembang untuk mengakses aspek-aspek situasi seperti juga untuk mengakses perilaku.
Seringkali terdapat kesulitan untuk membedakan antara metode pemantauan diri dengan metode laporan diri karena sama-sama menyampaikan subjek sebagai sumber data. Namun assesmen laporan diri berbeda dari pemantauan diri, laporan diri lebih bersifat retrospektif dan sumatif, sedangkan pemantauan diri menekankan pencatatan segera respon-respon spesifik.
Laporan diri behavioral, informasi tentang tingkah laku yang menyusahkan harus didapat dari klien sendiri, karena klienlah yang paling tahu. Laporan diri dilakukan melalui:
 Wawancara behavior: focus tingkah laku yang jadi masalah dan kejadian sebelum (antesidan) dan yang mengikuti tingkah laku (konsekuensi) tersebut, untuk mengeerti sifat yang tepat dari tingkah laku tersebut dan mencari bersama klien tujuan-tujuan intervensi.
 Memonitor diri: klien membuat catatan mengenai frekwensi tingkah laku.
 Ceklis behavioral dan inventori behavior: inventori dari Beck; Surve takut (Fear Survey Schedule) dari Wolpe: orang disuruh menunjuk seberapa besar berbagai pengalaman menimbulkan rasa takut. Pada BDI-nya Beck: klien menunjukkan terjadinya pikiran yang berhubungan dengan depresi.
4. Observasi Analog (identik)
Metode assesmen analog merupakan kelompok realitas, dimana berisikan karakteristik dasar tertentu mengenal hal-hal nyata dalam cara yang terkendali dan sederhana. Assesmen ini dapat dilaksanakan dengan cara berikut: paper and pencil test, audiotape, videotape test, anactment test, roleplay test, dan stimulasi. Tiap-tiap metode ini memiliki perbedaan pada alat yang digunakan, yang mana situasi analog (identik) ditampilkan dalam partisipan klien dan dalam tipe respons yang diminta dari klien.
5. Observasi serta rating oleh orang lain yang signifikan
Metode assesmen ini menggunakan orang dekat sebagai pengumpul data dengan cara observasi langsung atau dengan cara retrospektif membuat peringkat atas perilaku klien. Metode ini menampilkan sumber data yang menyeluruh, karena klien dipandang oleh orang yang secara signifikan sangat kuat mempengaruhi perilaku dan persepsi diri klien. Dalam pengumpulan data orang yang signifikan dapat menceritakan kepada klinisian sejumlah besar kenyataan mengenai lingkungan sosial klien.
Selain lima metode perilaku yang telah di paparkan diatas, terdapat wilayah tambahan assesmen perilaku yaitu, Assesmen Respon Fisiologis dan Assesmen Kognitif Spesifik.

D. Wilayah Tambahan Assesmen Perilaku
Dalam asessmen perilaku itu terdapat beberapa wilayah tambahan, wilayah tambahan ini meliputi:
1. Asessmen Psikofisiologis.
Yaitu kuantifikasi kejadian-kejadian biologis sebagaimana mereka berhubungan dengan pengubah-pengubah psikologis. Focus dari asesmen ini adalah perekaman reaksi-reaksi jasmaniah terhadap rangsangan-rangasangan lingkungan termasuk ketegangan otot, denyut jantung, tekanan darah, dan resistensi kulit.
2. Asesemen Perilaku Kognitif – Perilaku
Target dari asesmen ini adalah respon spesifik, yaitu aktivitas kognitif klien atau subyek penelitian dan bukan termasuk kejadian yang dapat diamati.
Sementara methode yang digunakan untuk mengakses respons kognitif perikau adalah:
a. Contoh pikiran (thought sampling), yaitu prosedur yang meminta bahwa individu, pada waktuy yang berbagai-bagai, terdapat pada pikirannya.
b. Inventori-inventori pernyataan diri (Self – statement inventories), yaitu meliputi serangkaian pikiran atau hal-hal yang orang katakan kepada mereka dan meminta individu untuk mengidentifikasikan seberapa sering ia memiliki yang telah didaftar.

Read More......

PERSONALITY ASSESMENT

Kebutuhan untuk melakukan pengukuran terhadap kepribadian timbul karena dua alasan, yaitu:
1. Dari segi teori, untuk menguji dan memantapkan teori yang telah dirumuskan.
2. Dari segi praktis, untuk memungkinkan prediksi dan pengendalian.
Dalam lingkungan psikometri pengukuran kepribadian itu secara tradisional hanya meliputi pengukuran aspek-aspek non-kognitif, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bukan abilitas. Namun secara lengkap pengukuran kepribadian itu harus pula meliputi pengukuran abilitas. Alat-alat atau teknik untuk mengukur kepribadian yaitu sebagai berikut:

A. Pengukuran aspek non-kognitif
1. self-report inventory
Asumsi-asumsi yang mendasari digunakannya self-report inventory adalah:
- bahwa individu-individu adalah orang yang paling tahu akan keadaan masing-masing.
- Bahwa individu mempunyai kemampuan dan kesediaan untuk menyatakan keadaan dan penghayatannya menurut apa adanya.
Dengan self-report inventory dapat diungkap ada atau tidaknya sesuatu hal (atribut) pada seseorang dan dapat diungkap seberapa besarnya. Prototipe sel-report inventory adalah Personal Data Sheet (PDS) yang dikembangkan oleh Woodworth salama Perang Dunia I. dengan menggunakan item-item yang dapat mengungkap gejala-gejala psikiatrik, seperti:
- apakah anda tahan melihat darah?
- Apakah anda sering berpikir untuk melakukan bunuh diri?
- Apakah anda sering mengalami konvulsi?
- Apakah anda sering merasa sesak nafas?
- Apakah anda mempunyai masa kanak-kanak yang bahagia?
Dan seterusnya yang seluruhnya berjumlah 116 item.
Suatu alat yang diukur analog dengan PDS yang tujuannya untuk mengetahui berbagai problem (kesukaran) yang dihadapi dan dihayati individu adalah Mooney Problem Check List. Alat lain yang digunakan secara luas adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI). Dengan MMPI dapat diungkap komponen-komponen kepribadian yang mempunyai arti klinis, yaitu:
- hypochondriasis - paranoia
- depression - psychasthenia
- hysteria - schizophrenia
- psychopathic deviate - hypomania
- masculinity-femininity - social introversion
Suatu segi yang menonjol dari MMPI asli adalah penggunaan tiga skala yang disebut skala-skala validitas, yang juga dipertahankan dalam MMPI-2. skala-skala ini tidak berkaitan dengan validitas dalam pengertian teknis. Akibatnya, skala-skala ini mewakili pengecekan dalam hal kurangnya perhatian, kesalahpahaman, pura-pura sakit dan pelaksanaan perangkat respon khusus dan sikap mengikuti tes. Skor-skor validitas mencakup:
- Skor bohong (L); didasarkan pada sekelompok butir soal yang tampaknya dipahami dengan baik oleh responden tetapi tidak mungkin dijawab dengan benar dengan arah yang dikehendaki (misalnya:saya tidak suka setiap orang yang saya kenal)
- Skor Infrekuensi (F); ditentukan dari seperangkat 60 (dari aslinya 64) soal yang dijawab dalam arah yang diskor oleh tidak lebih dari 10% kelompok standarisasi MMPI.
- Skor koreksi (K); menggunakan kombinasi lain dari butir-butir soal yang dipilih secara spesifik, skor ini memberikan ukuran bagi sikap dalam mengikuti tes yang diyakini lebih tak halus. Sebuah skor K yang tinggi bisa mengindikasikan sikap defense atau usaha untuk “memalsukan yang baik”. Sebuah skor K yang rendah bisa menggambarkan sikap terus terang yang berlebihan dan kritik diri atau usaha sengaja untuk “ memalsukan yang buruk”.
Dalam perkembangannya lebih lanjut alat ini juga dapat digunakan untuk mengungkapkan komponen-komponen lain, yaitu: ego strength, dependency, dominance, prejudice, social status. Kelemahan dari MMPI adalah:
a. Istilah-istilah psikiatri itu sering menyesatkan, dan mendorong orang untuk membuat interpretasi hasil testing dengan kurang hati-hati.
b. Beberapa dari skala-skalanya belum mempunyai reliabilitas yang memadai
c. Sampel yang digunakan untuk menyusun norma terbatas.
Beberapa self-report inventory disusun berdasarkan analisis faktor, misalnya Guilford-Zimmerman Temperament Survey, Comrey Personality Scales dan Cattell Inventory. Guilford-Zimmerman Temperament Survey digunakan untuk mengukur; general activity, restrain, ascendant, sociability, emotional stability, objectivity, friendliness, thoughtfulness, personal relations dan masculinity. Sedangkan cattell inventory digunakan untuk mengukur 16 faktor kepribadian atau terkenal dengan nama "16 PF" (Cattell, Eber dan Tatsuoka, 1970). Sedangkan alat yang mulai banyak digunakan di Indonesia adalah Edwards Personal preference Schedule (EPPS).

2. Pengukuran Minat, Sikap dan Nilai Budaya
kekuatan dan arah minat, sikap dan motif serta nilai-nilai budaya merupakan komponen penting dalam kepribadian seseorang. Komponen-komponen tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan, kecakapan kerja, kemampuan bergaul serta pola-pola hidup seseorang.
a. Pengukuran minat.
Pengukuran minat merupakan hal yang penting karena terbutkti minat mempunyai peranan yang penting dalam hal berhasil atau tidaknya seseorang dalam berbagai bidang , terutama dalam studi dan kerja.. studi mengenai minat mendapat dorongan terutama dalam bidang konseling, pendidikan dan vokasional. Salah satu alat yang digunakan untuk mengungkap minat yaitu Strong Vocational Interest Blank (Strong, Jr, !943, 1949, 1955). Alat lain yang digunakan untuk mengukur minat adalah kuder Interest Inventory, yang dikembangkan oleh Kuder. Yang digunakan untuk mengukur minat dari beberapa arah dan untuk keperluan yang bermacam-macam.
b. Pengukuran sikap
Pengukuran sikap banyak digunakan dalam penelitian-penelitian psikologi social. skala sikap telah banyak digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya polling pendapat umum mengenai keadaan politik, ekonomi atau hal-hal lain yang menyangkut kepentingan umum. Alat yang digunakan untuk pengukuran sikap adalah skala model Thurstone dan skala model Likert. Skala sikap model Thurstone dimaksudkan guna mendapatkan ukuran kuantitatif mengenai posisi relative individu dalam suatu kontinum sikap.
c. Pengukuran nilai-nilai budaya
kepentingan dilakukannya pengukuran nilai-nilai budaya dalam kepribadian didasarkan pada anggapan bahwa sistem nilai-nilai yang dianut oleh seseorang akan sangat besar pengaruhnya terhadap perilakunya. Alat yang paling banyak digunakan adalah yang modelnya disusun oleh Allport dan Vernon (1931), yang dasar teorinya adalah teori Spranger tentang adanya enam macam nilai budaya dalam masing-masing individu dan dalam masyarakat. Nilai-nilai budaya menurut spranger itu adalah nilai-nilai ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, keagamaan, kesenian dan kemasyarakatan (Soemadi Suryabrata, 1969)
3. Penggunaan teknik proyaktif
Ciri pembeda utama dari teknik proyektif adalah pada penilaiannya atas tugas yang relative tak terstruktur, yaitu tugas yang memungkinkan variasi yang hampir tak terbatas dari respon-respon yang mungkin. Hipotesis yang mendasari hal ini adalah bahwa cara individu mempersepsi dan menginterpretasi materi tes atau “menstrukturisasikan” situasi itu akan mencerminkan aspek-aspek dasar dari fungsi psikologisnya. Dengan kata lain, diharapkan materi tes bisa berfungsi sebagai semacam saringan dimana responden “memproyeksikan” proses pikiran, kebutuhan, kecemasan dan konflik khas mereka.
Metode proyektif berasal dari dalam lingkungan klinis dan tetap merupakan alat yang penting bagi ahli klinis. Dalam kerangka teoritisnya, kebanyakan teknik proyektif mencerminkan pengaruh konsep psikoanalitik yang tradisional dan modern. Alat-alat proyektif yang terkenal adalah test Rorschach (Rorschach, 1942) dan Thematic Apperception Test (Murray, et al., 1938).
4. Beberapa teknik lain
disamping teknik-teknik dan lat-alat yang telah dikemukakan itu masih terdapat sejumlah besar teknik atau alat yang masih dalam taraf pengembangan atau penjajagan. Berbagai alat tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Objective performance test
cirri-ciri teknik ini adalah:
- si pengambil test dituntut untuk “task-oriented”, jadi berbeda dari teknik-teknik yang telah dibicarakan di muka, yang pada umumnya bersifat ‘report-oriented”.
- Tujuan tes ini yang sebenarnya terselubung, jadi si pengambil tes tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang diukur.
- Tugas yang diberikan kepada pengambil tes jelas strukturnya.
- Pada setiap soal ada penyelesaian yang nampaknya benar.
b. Situational test
Dalam “situational test” pengambil tes ditempatkan dalam situasi yang mirip atau merupakan simulasi situasi dalam kehidupan nyata. Biasanya, situasi itu sifatnya problematic, disertai alternative-alternatif penyelesaian. Alternative yang dipilih oleh seseorang pengambil tes akan mencerminkan kepribadiannya dalam aspek tertentu.
c. Pengukuran konsep diri
sejumlah usaha bertolak dari dasar pandangan bahwa kepribadian itu akan dapat difahami dari segi “bagaimana individu itu memandang dirinya sendiri dengan orang lain”. Jadi, deskripsi seseorang mengenai dirinya sendiri itulah yang menjadi data utama dalam pengukuran kepribadian.

B. Pengukuran Aspek Kognitif
Pengukuran kepribadian secara lengkap harus pula meliputi pengukuran abilitas, yaitu pengukuran intelegensi dan bakat, akan tetapi menurut tradisi dalam psikometri pengukuran abilitas itu tidak dimasukkan dalam pengukuran kepribadian. Hasil-hasil pengukuran yang telah tercapai yaitu;
a. rigidity dan dogmatisme
b. penggunaan kategori kognitif
c. struktur kognitif
d. orientasi kognitif
Rigidity (ketegaran) yang merupakan kendali bagi kegiatan memproses informasi, dapat disaksikan misalnya dalam persepsi, pemecahan problem, maupun dalam penentuan pendapat mengenai soal-soal sosial. Penggunaan kategori kognitif mulai banyak dilakukan sejak diumumkan karya Gardner (1953) mengenai cognitive styles in categorizing behavior. Gardner menyimpulkan bahwa individu sedikit banyak dalam caranya menggunakan caranya menggunakan kategori-kategori untuk memasukkan atau tidak memasukkan sesuatu obyek kedalam golongan tertentu dan ini merupakan aspek kepribadian yang dapat membedakan seseorang secara khas dari orang-orang lain.
Struktur kognitif yaitu kerangka yang digunakan oleh individu untuk menangkapdunia fenomenal juga merupakan suatu aspek kepribadian yang telah meanrik perhatian. Pada umumnya individu cenderung kepada salah satu diantara dua macam orientasi yaitu field dependence atau field independence. Individu yang oriantasinya field dependence sangat tergantung pada struktur objek yang dihadapinya, sedang individu yang field independence tidak begitu terikat kepada struktur objek yang dihadapinya.

C. Problem-problem dalam Pengukuran Kepribadian
Tujuan pengukuran, termasuk pengukuran kepribadian adalah untuk mendapatkan informasi mengenai hal yang diukur, agar dapat dijadikan landasan pengambilan keputusan tertentu. Supaya informasi yang diperoleh itu relevan dan akurat, alat yang digunakan untuk mendapatkan informasi itui harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu:
1. Alat pengukur itu harus reliable
2. Alat pengukur itu harus Valid
Di samping kedua syarat utama itu, alat pengukur tersebut harus pula:
- Obyektif
- Dibakukan
- Komprehensif
- Mudah digunakan
- Murah (Sumadi Suryabrata, 1970)
Usaha untuk mengembangkan perumusan, menyusun model, serta menyusun teknik pengukuran reliabilitas itu dirintis oleh Spearman pada awal abad ini (Spearmen, 1904, 1910).
1. kelemahan-kelemahan Self-report inventory
- terjadi pemalsuan respon
- subyek memberikan respon dalam cara yang dikira dikehendaki oleh masyarakat
- subyek memberikan respon menurut cara yang biasa dilakukannya
- subyek memberikan respon yang ekstrim
2. Problem dalam pengukuran minat, sikap dan nilai budaya
berbagai skala sikap yang telah tersusun, yang sebagian besar mengguanakan model Thurstone atau model Likert, pada umumnya mempunyai kualitas psikometrik lumayan. Kebanyakan dari skala-skala tersebut mempunyai reliabilitas sedang, namun hanya sedikit saja informasi yang mengenai validitas yang telah dapat diketengahkan, pada umumnya skala-skala tersebut sangat tergantung pada validitas isi, dan construct validity, sedang secara ideal skala-skala tersebut harus mempunayi criterion-related validity. Skala untuk mengukur nilai budaya mengandung mengandung kelemahan validitas ini. Alat-alat yang sampai saat ini telah dikembangkan sangat tergantung kepada validitas isi dan construct validity.

3. Problem dalam penggunaan teknik proyektif
kelemahan-kelemahan dari teknik-teknik proyektif yaitu sebagai berikut:
a. pemalsuan
b. obyektivitas kurang memadahi
c. tiadanya norma yang mantap
d. reliabilitas
e. validitas.

Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com