Monday, April 18, 2011

10 Model Terapi Anak Autis

Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar2 diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

Read More......

DESENSITISASI SISTEMATIK

Desensitisasi Sistematik adalah terapi yang didasarkan pada proses counterconditioning (Martin & Pear, 2003). Dalam terapi ini, terapis akan membantu klien menyusun hierarki ketakutan (suatu daftar yang berisi kira-kira 15 – 20 item) yang disusun dari tingkat ketakutan yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Kemudian klien diajarkan latihan relaksasi yang mengajarkan bagaimana menegangkan dan merilekskan otot sehingga akan terlatih bersikap rileks secara mendalam. Dalam keadaan rileks, klien akan diminta membayangkan situasi/obyek yang ditakutinya mulai dari hierarki yang paling bawah selama beberapa detik. Kemudian klien diminta untuk rileks selama 15 hingga 30 detik, dan selanjutnya diminta membayangkan kembali obyek/situasi sesuai hierarki berikutnya; demikian seterusnya hingga item hierarki ketakutan yang paling tinggi. Setiap item (scene) dihadirkan sebanyak dua kali; 3 – 5 scene tiap sesi.

SSD merupakan prosedur yang relative sama dengan DS. Hanya saja pelaksanaan setiap langkah desensitisasi dilakukan oleh klien sendiri, bukan terapis. SSD lebih cocok untuk kasus-kasus fobia yang tidak terlalu berat. Untuk fobia yang lebih berat disarankan untuk mencari pertolongan professional. Jadi, pada intinya pelaksanaan program DS dan SSD meliputi tiga langkah yaitu: (1) Menyusun hireraki ketakutan. Hierarki disusun dari tingkat ketakutan yang paling rendah hingga yang paling tinggi, dengan menggunakan skala 0 – 100. Angka 0 berarti situasi/obyek tidak menimbulkan ketakutan; sedangkan angka 100 berarti situasi/obyek tersebut menimbulkan ketakutan yang maksimal atau paling ekstrim. Nilai-nilai ini merupakan subjective units of discomfort (suds) dari situasi yang ditakutkan. (2) Berlatih relaksasi otot secara mendalam, (3) Melaksanakan langkah-langkah proses self-desensitization

Implementasi Program SSD
Setelah hierarki ketakutan disusun dan subyek telah berlatih relaksasi secara mendalam, berikut ini akan disampaikan langkah-langkah dalam melaksanakan SSD :
1. Gunakan tempat yang tenang, privat, bebas dari suara-suara dari luar
2. Letakkan kartu-kartu dalam posisi tertelungkup, disusun berdasarkan urutan hireraki dimana hiaerarki yang paling rendah menimbulkan kecemasan diletakkan paling atas. Letakkan kartu-kartu di sisi yang mudah dijangkau saat subyek berbaring.
3. Melakukan relaksasi sampai dalam keadaan benar-benar rileks
4. Ambil kartu dari tumpukan yang paling atas, subyek diminta membaca situasi nya, kemudian diminta membayangkan dengan mata tertutup situasi tersebut seolah-olah dalam situasi nyata. Setelah kira-kira 10 detik subyek diminta untuk meletakkan kartu tersebut di tempat yang terpisah; masih dalam keadaan mata tertutup; kemudian diminta untuk tetap rileks secara total selama lebih kurang 30 detik. Selama rileks total ini subyek diminta melupakan situasi (scene) yang dibayangkan tadi dan hanya diminta rileks secara mendalam atau total.
5. Mengulangi prosedur diatas sekali lagi. Jika setelah ini subyek mampu membayangkan scene-nya sama atau kurang dari 5 suds, dapat berlanjut ke kartu ke-2 Apabila lebih dari 5 suds diminta untuk mengulang kembali satu atau dua kali lagi hingga angka yang diperoleh sama atau kurang dari 5 suds. Sebelum memulai ke kartu berikutnya, keadaan rileks perlu dikondisikan sekitar 2 menit.
6. Jika mengalami kesulitan saat membayangkan subyek diminta untuk meletakkan kartu dan difokuskan untuk rileks lebih dulu secara mendalam atau total, baru aktivitas membayangkan tadi diulang kembali.
7. Membayangkan suatu scene dapat dilakukan secara mundur apabila subyek tidak berhasil rileks saat membayangkan suatu scene dan setelah langkah pada nomor 6 di atas tidak pula berhasil.
8. Jika belum berhasil pula, item-item dalam hierarki tersebut perlu dikoreksi.
9. Pada umumnya, jumlah item yang dipresentasikan untuk dibayangkan berkisar 1 hingga 4 item tiap sesi.
10. Setiap sesi hendaknya dimulai dari item terakhir yang telah sukses dibayangkan dari sesi sebelumnya
11. Setiap sesi hendaknya tidak lebih dari 20 menit. Sesi diadakan sebanyak-banyaknya 2 kali per hari dan sekurang-kurangnya satu kali seminggu.

Read More......

DANCE MOVEMENT PSYCHOTHERAPY?

Gerakan Tari Psikoterapi (juga dikenal sebagai Gerakan Tari Terapi atau Tari Terapi) adalah terapi gerakan berbasis di mana hubungan klien-terapis memainkan peran sentral. Asosiasi profesional untuk Tari Gerakan Terapi (akan berganti nama Asosiasi Tari Gerakan Psikoterapi Inggris pada musim semi 2008) mendefinisikan lapangan sebagai: 'penggunaan psikoterapi gerakan dan tari melalui mana seseorang dapat terlibat dalam proses kreatif untuk lebih lanjut mereka emosional, kognitif , fisik dan sosial integrasi '(ADMT Inggris, 2007 p 1). Gerakan Tari Psikoterapi didasarkan pada prinsip bahwa gerakan mencerminkan pola individu berpikir, perasaan dan berkomunikasi. Melalui mengakui dan mendukung gerakan klien, Dance Gerakan praktisi Psikoterapi mendorong pengembangan dan integrasi baru pola pergerakan adaptif bersama dengan pengalaman emosional dan relasional yang menyertai perubahan tersebut.

Sedangkan penggunaan tari sebagai seni penyembuhan adalah sejarah, profesi ini dipengaruhi oleh teori-teori psikologi kontemporer, praktek psikoterapi dan terapi, tradisi multi-budaya di tari, bodywork dan pengembangan spiritual. Gerakan Tari Psikoterapi terus diinformasikan oleh praktek penelitian studies.The nasional dan internasional Gerakan Tari Psikoterapi dibatasi untuk praktisi terdaftar. Persyaratan untuk pendaftaran sebagai cocok untuk praktek diawasi oleh ADMT Inggris. Badan ini bertanggung jawab untuk praktek yang aman Gerakan Tari Psikoterapi melalui kode etik diterbitkan dan prinsip-prinsip praktik profesional. (Catatan: ADMT Inggris telah berhasil diterapkan pada profesi Kesehatan Dewan untuk pendaftaran dan saat ini menunggu amandemen dari Undang-Undang Profesi Kesehatan) Gerakan Tari Psikoterapi dipraktikkan dengan individu dan kelompok, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, penjara, pelayanan sosial dan masyarakat lainnya. berbasis pengaturan (misalnya organisasi-organisasi sukarela dan swasta). terdaftar praktisi senior juga bekerja di practice.Dance swasta Gerakan Psikoterapi diberikan kepada berbagai klien dari segala usia. Ini adalah modalitas pengobatan untuk orang-orang yang secara emosional tertekan, yang mengalami penyakit fisik atau mental, dan bagi mereka dengan gangguan fisik dan / atau kognitif serta orang-orang yang mencari pertumbuhan pribadi.

Ada sejumlah studi yang memberikan bukti efektivitas Dance Gerakan Psikoterapi untuk beragam gejala. Telah terbukti mengurangi kecemasan, dan meningkatkan konsep diri, self-efficacy, imajinasi dan kesadaran tubuh. studi penelitian lain telah terkonsentrasi pada populasi tertentu termasuk klien dengan skizofrenia, ketidakmampuan belajar, penyakit depresi, Parkinson dan selamat dari pelecehan seksual dengan hasil positif yang serupa.

Read More......

A Perspective on Cognitive Behavioral Therapy

Cognitive-behavioral therapy (CBT) is a type of counseling aimed at teaching the client how to become healthier and experience a more satisfying, fulfilling lifestyle by modifying certain thought and behavior patterns. It is based on the theory that thought and behavior can affect a person’s symptoms and be an obstacle to recovery. CBT can be helpful in treating a variety of problems, including depression, anxiety and panic disorders, dealing with life event such as: death, divorce, disability, unemployment, issues with children and mounting stress.

In CBT, the therapist and client work together to identify and change negative thinking and behavior patterns that may contribute to emotional and/or physical illness. The focus in therapy is to alter and change these thoughts or self-talks which express one’s beliefs and perceptions. Cognitive approaches focus on replacing one thought, belief, or form of self-talk with another (e.g. My life is miserable to I have purpose in life). Therapy also focuses on teaching the client more positive ways of thinking about and coping with not only illness but also life events and relationships.
To Provide a Simple Definition: Cognitive Counseling focuses on Monitoring and Managing your thinking patterns. This counseling would focus on reducing negative thinking and changing the content of thoughts so that it results in more positive emotions. Behavioral Counseling focuses on what actions the client takes, what rewards are in place that encourages the client to act a certain way and what unpleasant consequences prevent the client from behaving in other ways.
The process of CBT helps the client identify and correct specific errors in what he or she is thinking that results in painful and negative feelings. These distorted thoughts influence the client on an emotional and behavioral level. In treating a person who is experiencing psychological difficulties, I find that the most effective point of intervention is at the level of the person’s thoughts that are causing pain. If changes are made in thinking process, (e.g. assumptions, beliefs, values) changes in emotions and behavior will follow. I utilize various behavioral techniques and strategies as needed to enhance the treatment outcome (e.g., anger management, meditation, relaxation training, and assertiveness training). Unlike many traditional counseling processes, CBT focus on outcomes and goals. Results include a briefer counseling process in which the client experiences relatively rapid relief and enduring progress.
CBT is a simple model and has proven to be a powerful and successful type of psychological treatment in outcome studies conducted over the past several decades. Currently enjoying widespread popularity, CBT is practiced by many qualified professionals throughout the United States and internationally. I believe this type of counseling is most effective in dealing with individuals who are bright, rational and desire to have passion and enjoyment in their life. It is my opinion that this counseling does not work with individuals who want to stay in a victim role or spend their time blaming others for what’s not going right in their life. It takes courage and a willingness to say, “Whatever happened to me before I couldn’t do anything about, it is as it is, but now I am responsible for how I react to what has happened to me, what is happening to me and how I want to continue living my life.” The work, the effort, the fortitude of my clients continues to amaze and humble me—even after all of these years.

History:
CBT can be traced to early pioneers of psychology, but cognitive counseling, as it is practiced today was developed in the fifties and sixties. Throughout the seventies, the cognitive and behavioral schools were joined by thinkers and practitioners into cognitive-behavioral counseling. Beginning in the eighties and continuing through today, there has been a growing interest in cognitive-behavioral counseling because of its proven effectiveness and because this form of treatment can be administered in a briefer amount of time than traditional psychoanalysis or psychotherapy. For example, Dr. Phil is a cognitive behavioral therapist. Of course, he doesn’t provide treatment during his successful TV show, but only identifies the problem and sometimes presents therapy options (even offering to pay for them) to his guests.

Process:
CBT, the therapy process takes many forms. In fact, there are at least 60 variations depending on who you talk to. If you are doing TRADITIONAL cognitive-behavioral work, you do a lot of writing. The writing involves recording thoughts and counting behaviors, scaling emotions (e.g. on a scale of 1 to 100, where 1 is completely calm and 100 is out-of-control angry, where are you on this scale?), labeling categories of thoughts or behaviors, and writing alternative ways of thinking. I realize that cognitive-behavioral counseling is research proven; however, the rigidity of a strictly traditional method doesn’t work for me or my clients. Yes, my clients do a lot of writing, journaling, taking their thoughts from their mind and concretizing them on paper, setting clear goals and outcomes—they do that, but every client will resonate to their own method of working through the process and I must and will stay flexible to what works for them.

My focus in the counseling process includes:
• Assisting a client in recognizing, analyzing and managing their beliefs
• Allowing the client to rely on his or her memory, and validate that memory
• Placing a large emphasis on the client’s belief in who they are and what their purpose and place is in this world
• Keeping the focus on increasing “satisfaction with life” rather than on decreasing negative emotions
• Teach, Educate, Teach—-giving them the opportunity to re-examine what they have been told (e.g., “you aren’t going to amount to much”) to what in reality is true about themselves
• Identifying and practicing skills (e.g., including goal-setting and problem-solving)
• Continuing to do this work on a long term basis after the counseling process is over

Read More......

Saturday, April 2, 2011

PENDEKATAN KONSELING RASIONAL EMOTIF

KONSEP DASAR
 Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irsional

Ketika berpikir dan bertingkah-
laku rasional manusia akan
efektif, bahagia, dan kompeten.

Ketika berpikir dan bertingkah-
laku irasional individu itu menjadi
tidak efektif.
 Reaksi emosional seseorang disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi, baik yang disadari maupun tidak disadari.

 Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional.

 Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irrasional.
 Berpikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.

 Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan.

 Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.
 Perasaan dan pikiran negatief serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.


 Teori ABC dari Albert Ellis :

Tiga pilar yang membangun tingkah laku individu

Antecedent event (A)
Belief (B)
Consequence (C)


ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH
• Tingkah laku bermasalah : tingkah laku yang didasarkan dikendalikan oleh cara berpikir yang irrasional (iB)

• Ciri-ciri iB :
- Tidak dapat dibuktikan
- Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan)
yang sebenarnya tidak perlu
- Menghalangi individu untuk berkembang

Sebab-sebab Individu Berpikir Irasional :

• Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyataan
dan imajinasi

• Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain

• Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irrasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.


TUJUAN KONSELING
• Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irrasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis

• Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Untuk mencapai tujuan-tujuan konseling itu perlu pemahaman klien tentang sistem keyakinan atau cara-cara berpikirnya sendiri


• Tiga tingkatan insight /pemahaman :

1. Klien klien memahami tingkah laku
negatif/penolakan diri peristiwa yang
disebabkan oleh sistem keyakinan yang
irasional
2 Klien memahami bahwa yang menganggu
klien pada saat ini adalah karena keyakinan
irrasional terus dianutnya

3. Klien memahami bahwa tidak ada jalan lain
untuk keluar dari hambatan emosional yang dialaminya kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irrasional.


 Karakteristik Konseling RE

• Aktif-direktif :
dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

• Kognitif-eksperiensial
proses konseling berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
• Emotif-ekspreriensial
proses konseling memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.

• Behavioristik
proses konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com