Wednesday, July 7, 2010

Mengasuh Balita dengan Teknik Hypnoparenting

Hypnoparenting adalah teknik hypnotherapy (terapi dengan hipnosis) yang secara khusus diterapkan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Secara garis besar, teknik ini bermanfaat meningkatkan kualitas komunikasi dan kecerdasan spiritual orang tua dan anak. Bekerja langsung pada alam bawah sadar anak, membuat orang tua dapat menerapkan pola asuh tanpa paksaan. Sejak zaman dahulu teknik ini sudah banyak digunakan sebagai "alat bantu" pengasuhan anak, namun belum dikenal dengan nama hypnoparenting.

Prinsip utama hypnoparenting adalah mengucapkan kata-kata sugestif berulang-ulang kepada anak ketika otak anak sedang berada dalam gelombang Alpha (8 - 12 Hz). Ketika anak dalam kondisi relaks atau istirahat (mengantuk dan mata mulai tertutup) itulah kondisi otak anak dalam gelombang Alpha. Ketika otak bekerja dalam gelombang Beta (12 - 19 Hz), otak berada dalam keadaan waspada (alert), sedangkan dalam keadaan tidur lelap otak berada di gelombang Theta (4 - 8 Hz).
Kalimat-kalimat yang mengarahkan perilaku positif anak dapat Anda bisikkan di telinga anak ketika anak sedang beralih dari kondisi waspada ke kondisi mengantuk dan tertutup matanya. Kalimat afirmatif positif (maupun negatif) menjadi sugesti akan masuk dan "direkam" alam bawah sadar ketika disampaikan ketika anak dalam fase tersebut. Oleh karena itu, para ahli hipnosis akan melatih orang tua memformulasikan kalimat dengan tepat agar "program" yang disampaikan pada anak tepat.

Dari dua pernyataan berikut, salah satu bukan kalimat sugestif yang patut didengar anak tetapi tanpa sengaja lontarkan dilontarkan orang tua:
• “Bunga, kamu selalu berantakan. Coba atur kamar kamu supaya tidak berantakan begini. Tiap hari pasti berantakan…” Karena setiap hari ibunya berkata demikian, Bunga tumbuh menjadi anak yang tidak rapi, selalu berantakan.
• “Anak mama anak yang pandai kok, kamu pasti bisa dan pantang menyerah ya…” Sekalipun balita gagal dalam melakukan suatu hal, seperti tugas sekolahnya, kata-kata positif seperti ini justru membuatnya menjadi anak yang pandai dan pantang menyerah. Ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri.
Hindari:
• menyusun kalimat afirmatif yang mengandung kata "tidak", "jangan", "tanpa" dan kata-kata yang bermakna negasi. Alam bawah sadar hanya dapat "memahami" kata-kata dasar. Misalnya, Anda mengatakan, "Jangan nakal, ya!", yang terekam di alam bawah sadar justru kata "nakal". Jadi, sebaiknya diubar, "Jadilah anak pintar!".
• menyampaikan sugesti dalam kondisi marah atau emosi yang sedang tidak stabil. Redakan kemarahan atau rasa ingin tergesa-gesa dengan mengatur nafas.
Manfaat:
• Meningkatkan kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient) anak.
• Meningkatkan kualitas komunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal (karena ikatan batin anak-orang tua sangat erat).
• Mengarahkan proses tumbuh kembang anak.
• Mempersiapkan generasi sehat, cerdas dan kreatif.
• Membantu anak yang sakit jadi lebih tenang, merasa aman terlindung sehingga kualitas tidur lebih baik dan daya tahan tubuh meningkat.
• Membantu orang tua lebih paham kepribadian anak.
• Membimbing orang tua menjadi bijaksana dan peka secara spiritual dalam mendidik dan mengasuh anak.
• Mengarahkan orang tua selalu menjadi pribadi positif.

Read More......

Monday, June 28, 2010

Test Bakat Skolastik

Tes seleksi masuk ke perguruan tinggi sampai saat ini sering menghadapi kritik. Salah satu kritik yang sering muncul adalah keterkaitan materi tes dengan kurikulum sekolah. Keterkaikan ini menimbulkan maslah ketidakadilan (unfairness), karena calon mahasiswa yang memiliki potensi untuk belajar di perguruaan tinggi tetapi berasal dari sekolah atau daerah yang fasilitas belajarnya kurang, memiliki peluang yang lebih kecil untuk diterima dibandingkan calon mahasiswa yang berasal dari sekolah yang lebih baik.

Menggunakan tes yang mengukur potensi akademik seseorang sebagai alat seleksi merupakan usaha agar calon mahasiswa baru terseleksi lebih adil dan akurat. Di USA seleksi masuk perguruan tinggi juga menggunakan tes yang mengukur potensi akademik yang dikenal dengan nama Scholastic Aptitude Test (SAT). Tes ini mengukur potensi seseorang untuk belajar di perguruan tinggi tetapi tidak terkait dengan pencapaian kurikulum dan fasilitas sekolah.
Pusat Penilaian Pendididikan sejak tahun 1990 telah mengembangkan tes yang mengukur potensi akademik dengan nama Tes bakat Skolastik (TBS). Selain untuk kepentingan seleksi masuk perguruan tinggi Tes Bakat Skolastik juga dapat di gunakan untuk kepentingan-kepentingan lain seperti seleksi pegawai dan seleksi guru.
Tes Bakat Skolastik dikembangkan berdasarkan teori tes inteligensi. Tujuan tes ini adalah mengukur potensi atau bakat skolastik (scholastic aptitude) untuk belajar di perguruan tinggi. Tes Bakat Skolastik terdiri atas tiga subtes, yaitu :
• Verbal: mengukur kemampuan penalaran verbal, dan memahami gagasan suatu wacana.
• Kuantitatif: mengukur kemampuan mengorganisasi informasi untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan angka.
• Penalaran: mengukur kemampuan untuk mengevaluasi dan menyusun kesimpulan.
Tes Bakat Skolastik dikembangkan dengan melibatkan tenaga-tenaga ahli dari beberapa perguruan tinggi terkemuka seperti UI, UGM, dan UNPAD. Uji kualitas soal tes ini menggunakan pendekatan teori tes modern yaitu Item Response Theory (IRT). Soal yang telah diuji kemudian dikelola dalam bentuk bank soal yang terkalibrasi. Dengan teori tes modern dapat dipastikan bahwa orang yang memiliki potensi yang sama tetapi mengerjakan perangkat soal yang berbeda akan memperoleh skor yang sama.
Waktu untuk mengadministrasikan tes ini sekitar 160 menit, yaitu 10 menit untuk penjelasan ,20 menit untuk pengisian lembar jawab computer, dan 130 menit untuk mengerjakan soal. Pemeriksaan tes dilakukan dengan sistem komputerisasi dengan menggunakan OMR Scanner.

Read More......

POLIGAMI

“Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, lentera hidup ini”. Penggalan lirik lagu ini tak asing lagi. Abdullah Gymnastiar, biasa disapa Aa Gym, adalah sang empu sekaligus sang pelantun. Melalui resep Menejemen Qalbu (MQ) yang diramunya, nama Aa Gym melambung. Kian hari kian naik daun. Hingga akhirnya, di penghujung tahun ini, Aa Gym memutuskan untuk menikah kali kedua, atau lazim disebut poligami.

Pro-kontra pun hingar-bingar. Wajar saja, sebagai dai kondang, gerak-geriknya menjadi panutan banyak orang. Sementara, poligami adalah satu hal yang problematik di benak masyarakat. Ada yang menerima dengan alasan mencontoh prilaku Nabi saw, ada pula yang menolak dengan dalih merugikan kaum perempuan. Bagaimana duduk perkara masalah ini?

Poligami, sejatinya, telah diatur dalam fikih. “Ini tergolong sunnah fi’liyah, mencontoh perilaku Rasul,” kata Lutfiyah Sungkar, penceramah agama. Ia memperkokoh argumentasi ini dengan mengutip ayat 31 surat Ali Imran. “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu....” Poligami yang dilakukan Nabi, tak asal menikah. Wanita yang dipilih adalah janda-janda yang terlantar karena suaminya gugur di medan perang. “Jadi yang sunah Rasul itu yang seperti ini, bukan poligami dengan perempuan yang masih imut-imut,” tambahnya.

Menurut aktifis Kaukus Perempuan Badriyah Fayumi, masalah poligami tak sekadar halal-haram, sunnah apa makruh. Jangankan poligami, monogami (nikah dengan satu wanita) saja hukumnya dapat berubah. Monogami bisa menjadi haram kalau membawa madlarat bagi salah satu pihak. “Apalagi poligami sebenarnya bukan perintah, hanya sedikit saja dibukakan pintu, sebab ada persoalan sosial,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai pencaramah ini. Bagi Badriyah, konteks turunnya ayat 3 Surat An-Nisa, yang biasa dijadikan dasar bolehnya poligami, adalah dalam rangka melindungi perempuan dan anak yatim. Jika tidak untuk tujuan itu, poligami menjadi bermasalah.

Lutfiyah tetap pada pendirian, hukum poligami itu jelas sunnah. Karena disitir dalam al-Quran dan dicontohkan Nabi. Syaratnya harus adil dan wanita yang dinikahi itu dalam kondisi terlantar dan butuh pertolongan. Pada sisi perlindungan terhadap perempuan, Badriyah sependapat. Spirit poligami hakikatnya adalah perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Jadi, jangan jadikan poligami sebagai justifikasi untuk melegalkan nafsu syahwat yang tak terkendali. Kalau mengedepankan syahwat, maka poligami telah melenceng dari ajaran syariat. “Di samping memenej qalbu, perlu juga memenej syahwat,” tandas wanita yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat pusat itu.

Read More......

Sifat-Sifat Wanita Ahli Surga

Siapakah wanita yang menjadi ahli Surga?. Apakah ciri-ciri atau sifat-sifat yang menjadi kunci bagi wanita memasuki surga?. Sebuah hadis Nabi menyatakan: Dari Anas, Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: "Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki surga melalui mana-mana pintu yang dia sukai." (Hadis Riwayat Ahmad).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Nabi Sallallahu Alahi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya perkara yang pertama sekali dikira dari amalan hamba di hari kiamat ialah sembahyang; sekiranya sembahyang itu sempurna, maka beruntung dan berjayalah dia, dan sekiranya ia rosak, maka kecewa dan rugilah dia, kalau kewajiban fardhu masih kurang, Allah berfirman: Lihatlah adakah amalan-amalan sunat untuk menyempurnakan kekurangan tersebut. Demikianlah seterusnya dengan amalan yang lain" (Hadis riwayat at-Tirmidzi).
Disamping menunaikan kewajiban kepada Allah, menunaikan hak dan kewajiban kepada suami juga merupakan hal yang tidak boleh diabaikan oleh seorang wanita. Tertunainya hak dan tanggung-jawab suami barulah akan turun keredhaan dan rahmat Allah kepadanya. Menjaga kehormatan diri juga merupakan hal yang digariskan oleh hadis di atas. Antara hal-hal yang boleh diketegorikan dalam konteks menjaga kehormatan itu ialah mempunyai sifat pemalu, jika suaminya keluar dia akan menguruskan dan menjaga dirinya dan harta suaminya dengan amanah. Bila suaminya datang kepadanya dia akan menjaga mulut daripada menyebutkan perkataan yang tidak baik didengar.
Sebuah hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyatakan bahwa: "Sesungguhnya sopan santun dan keimanan adalah saling berkaitan, jika salah satunya dikeluarkan, yang satu lagi juga akan hilang serentak." (Hadis Riwayat Baihaqi)
Maksud hadis ini ialah jika kesopanan atau sifat malu sudah hilang, iman juga akan hilang bersamasamanya. Betapa besarnya pengaruh antara kesopanan dan keimanan kepada diri seorang wanita itu, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menegaskan dengan sabda baginda: "Apabila sesesorang itu terlibat dengan penzinaan, ia bukan lagi seorang beriman, apabila seseorang itu mencuri ia bukan lagi seorang beriman, apabila seseorang itu meminum arak ia bukan lagi seorang beriman, apabila seseorang itu menyelewing setelah diberi amanah oleh orang lain ia bukan lagi seorang beriman, dan apabila seseorang diantara kamu menipu ia bukan lagi seorang beriman, karena itu berjaga-jagalah!".
Taat kepada suami merupakan satu lagi sifat wanita yang digambarkan oleh hadis yang dipaparkan di awal tulisan ini. Taat kepada suami adalah tanggung-jawab isteri yang wajib disempurnakan. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Bazzar Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Kamu sampaikan kepada perempuan yang kamu jumpai; bahwa taat kepada suami, dan mengakui hak-hak suami, sama pahalanya dengan berperang dan bertempur dengan musuh-musuh Islam di medan pertempuran". (Hadis riwayat Al Imam Bazzar).
Isteri adalah pusat dan sumber kebahagiaan dan ketenteraman di dalam sebuah rumah tangga. Ia perlu mempunyai sifat-sifat sabar dan perhatian yang sepenuhnya kepada suami dan juga anak-anak. Sikap inilah yang boleh mewujudkan suasana yang tenang, aman dan damai dalam rumahtangga. Dalam hal ini, para isteri sayugialah akan sentiasa bersikap baik kepada suami. Sayyidina Abu Bakar Radhiallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda: "Seorang wanita yang menyakiti hati suami dengan lidahnya, dia mendatangkan celaan dan kemurkaan Allah, para malaikat dan umat manusia." "Wanita yang berkata kepada suaminya yang tidak melihat apa-apa kebaikan pada suaminya, Allah menghapuskan segala perbuatan baiknya selama 70 tahun, walaupun dia berpuasa selama itu siang hari dan bersembahyang pada malamnya." (Hadis Riwayat Imam Majah dan An-Nasai)
Berdasarkan uraian ringkas di atas, para wanita semestinyalah mengamalkan sikap taat dan bertakwa kepada Allah, bertanggung-jawab kepada suami dan menjaga kehormatan dirinya. Semoga dengan itu, akan mudahlah mereka mendapat rahmat dan keridhaan Allah. Rahmat dan ridha Allah itulah yang akan menjamin kebahagian hidupnya di dunia dan di akhirat.

Read More......

Sunday, June 27, 2010

MARAH

a. Pengertian Marah
Marah adalah keadaan psikologis yang menyimpang watak seseorang dari jalan yang dialami (Hartati, 2005;114). (Arif Budiman dan Abu Bakar Baraja dalam Wetrimudrison, 2005; 2) menyebutkan dalam bukunya mental sehat hidup nikmat mental sakit hidup pahit, bahwa marah sebagai suatu emosi yang disebabkan karena seseorang menghadapi suatu keadaan yang tidak disukainya, atau bertentangan dengan kemauannya. Dalam kitab ihya ulumuddin (Imam Al-Gazali dalam Wetrimudrison,

2005:2) menerangkan bahwa marah bagaikan nyala api yang menyalaberkobar-berkobar, menyerang bergerak dan bergejolak dalam hati manusia. (Dada Jashan dalam Odang Mukhtar,2003) seorang pemandu rohani dari India menyatakan bahwa marah lebih ganas dari api, lebih berbahaya dari gempa bumi, karena dengan kemarahan seseorang membunuh orang lain, karean kemarahan negara saling bermusuhan dan begitu banyak nyawa yang melayang. Secara Psikolodis marah adalah fenomena emosional. Dari beberapa pengertian marah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa marah adalah bentuk ekspresi manusia untuk melampiaskan ketidakpuasan, kekecewaan atau kesalaahannya ketika terjadi gejolak emosional yang tidak terkendalikan. Sedangkan (Tice dalam Goleman, 2003;82) menemukan bahwa amarah merupakan suasana hati yang paling sulit dikendalikan.
Marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi kehidupan manusia, yakni membantunya dalam menjaga dirinya. Pada waktu seseorang sedang marah, energinya guna melakukan upaya fisik yang keras semakin meningkat. Ini memungkinkannya untuk mempertahankan diri atau menaklukkan segala hambatan yang menghadang di jalan dalam upayanya untuk merealisasikan tujuan-tujuannya. Al-Qur’an sendiri memberikan anjuran digunakannya kekerasan dalam menghadapi orang-orang kafir yang menghalangi tersebar luasnya Islam. Kekerasan seperti ini adalah kekerasan yang timbul dari marah karena Allah dan demi untuk menyebar luaskan seruannya (Najati, 1985:77).
Manusia cenderung memberi respon terhadap emosi (marah), dengan mengarahkan permusuhan pada hambatan-hambatan yang menghalangi permusuhan dorongan-dorongannya atau perealisasian tujuan-tujuannya, bukan pula penyebab sebenarnya yang membuat timbulnya kemarahan itu. Emosi marah yang menguasai diri seseorang bisa membuat macetnya kemampuan berpikirnya yang sehat. Kadang-kadang ia melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang memusuhi, yang disesalinya setelah kemarahannya reda (Najati, 1985:79).
b. Bentuk-bentuk Marah
1. Kesal/mangkel
Kesal dan mangkel adalah efek dari rasa kekecewaan karena terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan manusia, yang kebetulan pada saat itu perasaan manusia sedang tidak stabil, sehingga dia tidak sanggup menerima kekecewaan itu. Kesal dan mangkel hanya dirasakan oleh orang yang sedang mengalaminya, karena gejolak ini hanya berada dalam hati manusia.
2. Menumpahkan kata-kata yang tidak baik
Marah dalam bentuk ini sedikit bisa mengurangi mangkel dan kesal, namun sangat berbahaya bagi orang yang mendengar atau orang yang sedang dimarahi.
3. Diam dan bermuka masam
Diam dan bermuka masam adalah fenomena marah yang berasal dari hati yang kesal dan dongkol terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. Ini adalah bagian dari pengendalian marah yang tidak berkata-kata buruk dan tidak memukul, tapi cara sepeerti ini juga belum termasuk cara pengendalian marah yang baik, karena diam seribu bahasa dan bermuka masam masih masuk ke dalam kategori marah.
4. Memalingkan pandangan dan tidak bertegur sapa
Sebagian orang membela diri dan mengatakan , bahwa memalingkan pandangan dan tidak bertegur sapa adalah perilaku yang tidak termasuk ke dalam kategori marah. Bagaimanapun alasan ini, sikap dan perilakunya yang memalingkan pandangan dan tidak bertegur sapa adalah fenomena ketidakpuasan terhadap seseorang. Dan ini masih termasuk salah satu cara orang melampiaskan kemarahannya.
5. Memukul/Menghancurkan
Marah dengan memukul dan menghancurkan adalah tingkat kemarahan yang paling berbahaya, pada level ini orang yang marah kadang tidak sadar dia melakukan pembunuhan atau membakar rumah, bunh diri dan lain-lain. Ini adalah tingkat kemarahan yang sangat fatal.

c. Beberapa Hal yang Menyebabkan Marah
Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: marah kepada atasan atau bawahan, dan lain-lain. Selain hal-hal eksternal tersebut, kemarahn juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada dalam diri sendiri. Dengan kata lain ada unfinished business (masalah yang tidak tuntas) yang bisa memicu timbulnya marah. Contoh: ketakutan atau kekhawatiran terhadap sesuatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik ataupun kenangan pahit pada masa lalu.
Berdasarkan pengalaman empirik dalam masyarakat, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi marah (Wetrimudrison,2005:6-13), yaitu:
1. Merasa diri paling benar dan berkuasa
Orang yang merasa dirinya paling benar cenderung akan membuat dia akan menyalahkan orang lain. Demikian juga ketikan manusia merasa dirinya berkuasa, maka cenderung akan meremehkan orang lain. Apabila dua sikap ini bertemu dalam satu peristiwa pada diri seseorang, maka akan terbentuklah sikap egois.
2. Dendam
dendam merupakan perasaan sakit hati yang tersimpan atau terpendam dalam hati seseorang , yang dinilai sangat mudah memicu timbulnya kemarahan. Orang pendendam hidupnya tidak akan pernah tenang, karena setiap dia melihat dan mendengar nama orang yang menyakiti hatinya, setiap itu pula hatinya akansemakin sakit dan marahnya semakin membara pada orang tersebut.
3. Direndahkan, dihina atau dicaci maki
Jarang orang yang menyadari bahwa seburuk dan serendah apapun diri orang, maka dia tidak akan pernah rela dihina, walaupun sesungguhnya orang hanya menyebutkan keburukan sifat dan kepribadiannya, karena pada dasarnya setiap manusia punya harga diri.
4. Sengaja dirangsang untuk dimanfaatkan orang
Sedikit sekali orang yang menyadari ketika dia dihasut untuk bermusuhan dengan seseorang. Biasanya bagi orang yang tidak terbiasa marah, minimal dia telah mendengar dan menerima pesepsi yang salah terhadap orang lain disebabkan penghasutnya.

5. Momentum yang tidak menyenangkan
 Ketika orang dalam kondisi lapar
 Ketika orang dalam kondisi mengantuk/tertidur
 Ketika orang sedang dalam kondisi kecewa
 Ketika orang sedang dalam kondisi sangat serius
 Ketika orang dalam kondisi sakit
 Ketika orang dalam kondisi sibuk
 Ketika orang dalam kondisi sedih
 Ketika orang dalam kondisi marah
 Ketika orang sedang kaget
 Ketika orang dalam kondisi malu.

d. Pengendalian Marah
Al-Qur’an juga berwasiat agar kita bisa mengendalikan emosi marah. Sebab ketika seseorang sedang marah pemikirannya akan macet dan kehilangan kemampuan untuk memberikan penilaian yang benar. Selama marah berlangsung dua kelenjar anak ginjal memancarkan hormon adrenaline yang mempengaruhi hati dan membuatnya mengeluarkan lebih banyak zat gula. Ini membuat terjadinya peningkatan energi dalam tubuh dan membuat tubuh lebih mampu mencurahkan upaya organis yang diperlukannya untuk mempertahankan diri. Peningkatan energi dalam tubuh, salama emosi marah berlangsung, akan membuat seseorang lebih siap untuk melakukan permusuhan fisik terhadap orang yang membangkitkan kemarahannya. Oleh karena itu pengendalian emosi mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Memudahkan kemampuan berfikir manusia dan pengambilan keputusan yang benar. Ini menghindarkannya untuk tidak terjerumus dalam tindakan atau perkataan yang disesalinya nanti.
2. Memelihara keseimbangan fisik manusia, sebab ia melindungi manusia dari ketegangan fisik yang timbul akibat peningkatan energi yang terjadi akibat meningkatnya zat gula yang diperlukan oleh hati. Dengan demikian manusia akan terhindar untuk tidak melakukan berbegai tindak kekerasan sewaktu emosi marah sedaang berlangsung.
3. Pengendalian emosi marah dan tindakan memusuhi orang lain, baik secara fisik maupun kata-kata, dan tetap mempergauli orang lain dengan baik dan tenang, dengan sendirinya akan menimbulkan rasa tenang dalam diri si musuh itu dan mendorongnya mengadakan introspeksi.
4. Pengendalian atas emosi marah, dari segi kesehatan juga bermanfaat, sebab ia menghindarkan manusia dari banyak penyakit fisik yang pada umumnya (Najati, 1985)
Salah satu cara untuk meredakan amarah adalah dengan menggunakan dan mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan amarah. Selain itu pergi menyendiri sembari mendinginkan amarah, pergi berjalan kaki dalam waktu cukup lama , melakukan kegiatan berolahraga juga menolong meredakan amarah. Demikian pula metode-metode relaksasi seperti menarik nafas dalam-dalam serta pelemasan otot (Goleman, 2003;88)
Dalam surveinya mengenai strategi yang digunakan orang untuk mengatasi amarah, (Tice dalam Goleman, 2003;88) menemukan bahwa selingan pada umumnya banyak menolong untuk meredakan amarah: TV, film, bacaan dan semacamnya dapat menghambat pikiran-pikiran buruk yang menyalakan amarah. Selain itu salah satu strategi yang dikembangkan oleh (Williams dalam Goleman,2003;89) untuk pengendalian amarah yaitu menggunakan kepekaan diri menangkap pikiran-pikiran sinis atau buruk saat pikiran itu muncul, dan menuliskan pikiran-pikiran itu. Cara terbaik untuk mengatasi amarah menurut (Trungpa dalam Goleman, 2003;90) adalah “jangan menekannya. Tetapi, jangan melampiaskannya”.

Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com