Saturday, June 26, 2010

PENGARUH TELEVISI TERHADAP PEMBELAJARAN ANAK

Sejarah Dunia terbentuk dan dipenuhi oloeh tontonan-tontonan kekerasan, kebrutalan, ketakutan, dan horror, mulai dari perselisihan qabil dan habil, genocide orang-orang yahudi dikmar gas oleh Hitler sampai pada invasi kedua amerika kepada irak atas nama demokrasi. Apakah dunia ini terbentuk untuk kekerasan sang penguasa terhadap kaum “minoritas”?
Film/ sinetron yang mengusung bau mistis dan sadisme merupakan santapat yang tak terhindarkan lagi mulai dari pgi, siang sampai

larut malam. Tayangan-tayangan ini seolah terlepas dan mungkin tidak berkorelasi lagi dengan asumsi dalam esensinya dan malahan cenderung hanya masuk dalam sisi komersialnya saja.
Bagi manusia dewasa yang telah memiliki konsep serta pandangan hidup, tayangan seperti ini mungkin malah sangat berguna sebagai salah satu media refleksi sekaligus instrospeksi diri. Tapi tentunya kita tidak boleh melupakan salah satu kelompok/golongan penonton anak yang belum memiliki banyak referensi tentang apa itu hidup.
Seperti yang telah disinggung didepan, bahwa proses belajar adalah proses insight yang didefinisikan sebagai pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antara bagian-bagian didalam suatu situasi permasalahan. Pada anak proses ini sangat berperan penting apalagi dalam tontonan yang berbau mistis serta sadis mengingat masa anak adalah masa imitasi. Proses insight pada anak tergantung pada kemampuan dasar yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lainnya.
Berangkat dari sini kemudian timbul berbagai kemungkinan pengaruh tayangan yang berbau mistis, diantaranya adalah :
• Pola pikir anak cenderung akan mengarah pada pola pikir yang terdoktrin dalam artian anak akan percaya begitu saja tanpa mengetahui runtutan jelas dari akar permasalahan. Pola yang terdoktrinasi seperti pada bahwa Tuhan akan menurunkan bahan makanan dari langit kepada orang yang tokoh lakon (beriman). Walaupun peristiwa seperti itu mungkin saja terjadi dalam kehidupan nyata, tapi permasalahannya adalah anak cenderung akan mengadopsi jalan sesuai apa yang dilakukan tokoh protagonist seperti berdoa, berdzikir hanya dalam kamar tanpa usaha pragsis yang mengarah langsung pada dunia nyata. Pola pikir seperti ini tentunya akan menjadikan anak sebagai individu yang selalu “memotong kompas” dengan hanya berserah diri tanpa usaha dalam dunia nyata,artinya pola pikir pada anak akan cenderung stagnan tanpa ada usaha pembaharuan.
• Menurunnya daya pengembangan potensi/ bakat karena menurunnya tingkat optimisme serta motivasi internal pada anak seiring dengan kepercayaannya terhadap hal-hal yang bersift mistis.
Sedangkan dalam tayangan yang memiliki unsure sadisme akan memiliki potensi tingkat imitasi pada anak berupa :
• Tertanamnya pola pikir yang cenderung menyelesaikan masalah dengan kekerasan, ini terkait bahwa tindakan akhir pada tayangan televisi yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, seperti pada aksi tokoh protagonist dalam menghukum tokoh antagonist dengan menggunakan cara kekerasan dan pembunuhan. Sehingga motivasi anak akan menjadi motivasi untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan/fisik.
• Memandang agama dari kacamata sadisme, disini pola pikir pada anaka akan mengarah bahwa perintah dalam agama harus dilakukan, karena akan ada hukuman yang mengerikan ketika manusia tidak melaksanakannya.
• Timbulnya perasaan phobia dalam dunia nyata.

Read More......

Masalah Kesehatan Jiwa Lansia

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Masalah kesehatan jiwa lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6)

Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Sementara Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia.
Ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu :
• Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia
• Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif
• Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila : a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain), b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.
• Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dsb. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma psikis.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:
Penurunan Kondisi Fisik
Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Perubahan Aspek Psikososial
Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti :
Gangguan jantung
Gangguan metabolisme, misal diabetes millitus
Vaginitis
Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi
Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang
Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer, serta
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
• Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
• Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya
• Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya
• Pasangan hidup telah meninggal
• Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.

Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia (lihat artikel MemahamiTipe Kperibadian Lansia) sebagai berikut:
• Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
• Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya
• Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
• Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
• Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya.
Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lansia.

Read More......

APLIKASI TEORI-TEORI BELAJAR DALAM DUNIA PENDIDIKAN

A. Analisis Kasus Menurut Kajian Teoritis
Kategori belajar terdiri atas ketrampilan sensomotor yakni tindakan yang bersifat otomatis. Belajar asosiasi yaitu hubungan antara urutan kata dan objek, ketrampilan pengamatan motoris yakni hubungan antara belajar sensomotor dengan beajar asosiasi. Belajar konseptual yakni gambaran mental secara umum dan abstrak tentang situasi atau kondisi, belajar cita-cita dan sikap, serta belajar memecahkan masalah yang menuntut kemampuan memanipulasikan ide-ide yang abstrak. Karena itulah dalam makalah kami kali ini kami akan membahas tentang teori-teori belajar dan aplikasinya dalam proses belajar.

- Teori disiplin mental
Dalam teori disiplin mental individu memiliki kekuatan, kemampuan, atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengembangan dari kekuatan, kemauan dan potensi-potensi tersebut bagaimana proses pengembangan kekuatan tersebut tiap aliran atau teori mengemukakan pandangan yang berbeda.
Beberapa teori disiplin mental yang lain adalah Naturalise Romantik dari Rosseon. Menurut Jean Jacques Rosseon, anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi tersebut.
- Teori Behaviorisme
Disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul.
Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu :
o Mengutamakan unsur atau bagian-bagian kecil
o Bersifat mekanistis
o Menekankan peranan lingkungan
o Menekankan pembentukan reaksi atau respon
o Menekankan pentingnya latihan.
- Teori Cognitive-Gestalk-Field
Menurut Gestalt, belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian. Belajar Gestalt menekankan pemahaman atau insight. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai hubungan yang bermakna satu sama lain.
Dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, harmonis. Belajar adalah mencari dan mendapatkan pragnanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu.
- Teori Belajar Sosial
Menurut Albert Bandura, tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Menurut Barlow (1985), sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui penemuan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Dalam hal ini, seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa ini juga dapat mempelajari respons baru dengancara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain misalnya guru atau orang tuanya.
- Teori belajar dari Psikologi Humanistik
Combs dkk. menyatakan apabila kita ingin memahami dunia persepsi orang, mengubah perlaku seseorang kita harus nerusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu. Combs dkk selanjutnya menyatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tidak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya

B. Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan
o Kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah tingkah laku yang komplek, bukan hanya simpel respons. Tingkah laku yang komplek ini dapat diajarkan melalui proses shaping atau succesive approximation, beberapa tingkah laku yang mendekati espons terminal. Proses ini dimulai dengan penetapan tujuan, kemudian diadakan analisis tugas, langkah-langkah kegiatan murid dan reinforcement terhadap respon yang diinginkan.
o Suatu bentuk belajar yang tidak dapat dinamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modelling, seseorang yang beljar mengikuti kelanjutan orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi dari pada melalui pengajaran langsung.
o Prosedur-prosedur pengendalian atau perbaikan tingkah laku
1. Memperkuat tingah laku bersaing
Dalam usaha mengubah tingkah yang tidak diinginkan diadakan penguatan tingkah laku yang diinginkan misalnya dengan kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja disatu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, melamun dan hilir-mudik
2. Extincsi
Dilakukan dengan membuang atau meniadakan peristiwa penguat tingkah laku. Extincsi dapat dipakai bersama metode lain seperti modelling dan sosial reinforcemenr. Extincsi berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan kesana-kemari, maka perubahan Extincsi guru-murid akan menghentikan tingkah laku murid tersebut.
3. Satiasi
Adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi leah dan jerah. Contoh : seorang guru yang memergoki muridnya menyuruh anak merokok sampai habis satu pak sehingga murid itu bosan
4. Perubahan Lingkungan
Beberapa tingkah laku dapat dikendalikan oleh perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh diluar kelas ketukan jendela dapat menghentikan gangguan itu.
5. Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan murid, sedangkan reword menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid.
o Berikut ini adalah langkah-langkah bagi guru dalam mengadakan analisis dan modivikasi perilaku:
1. Rumusan tingkah laku yang diubah secara operasional
1. Amatilah frekuensi tingkah laku yang perlu diubah
2. Ciptakan situasi belajar atau treatment sehingga terjadi tingka laku yang diinginkan
3. Indikasilah reinforcement yang potensial
4. Perkuatlah tingkah laku yang diinginkan
o Pengajaran terprogram menerapkan prinsip-prinsip “operant conditioning” bagi belajar manusia di sekolah. Pengajaran ini berlangsung seperti halnya paket pengajaran diri sendiri yang menyajikan suatu topik yang disusun secara cermat untuk dipelajari dan dikerjakan oleh murid. Tiap-tiap pekerjaan murid diberi “feed back”.
o Program pegajaran terprogram telah diterapkan dalam program pengajaran individual. Program pengajaran individual telah dikembangkan pada penerapan beberapa lembaga pendidikan, seperti :
 Program for learning in accordanc with need (PLAN), pada westinghouse corporation.
 Individually guide education (IGE), pada pusat penelitian dan pengembangan belajar kognitif Universitas Pittsbugh.
o Komponen pengajaran penting menurut pandangan behavioral adalah kebutuhan akan:
 Perumusan tugas atau tujuan belajar secara behavioral
 Membagi “task” menjadi “subtasks”
 Menentukan hubungan dan aturan logis “subtasks”
 Menetapkan bahan dan prosedur mengajarkan tiap-tiap “subtasks”
 Memberi “feedback” pada setiap penyelesaian “subtasks” atau tujuan-tujuan terminal.
o Pendekatan belajar berikut ini sebuah outline strategi belajar tuntas menurut Bloom (1971):
1. Pelajaran terbagi ats unit-unit kecil untuk satu atau dua minggu pelajaran
2. Bagi masing-masing unit, tujuan intruksional dirumuskan dengan jelas
3. Learning tasks dalam masing-msing unit diajarkan dengan pengajaran kelompok reguler
o Modal belajar mengajar menunjukkan bahwa perbedaan individual akan mempengaruhi keputusan metodologi guru. Prinsip “operant condotioning” dan analisis tugas terlaksana dengan berhasil pada berbagai macam murid dari berbagai situasi belajar. Unutk mengadakan analisis tugas, guru harus mengetahui tujuan instruksional.

Read More......

Friday, June 25, 2010

PERGAULAN

Bisakah kamu hidup tanpa kahadiran orang lain, mungkin kamu merasa bahwa kamu tidak membutuhakan teman untuk mendukungmu manjadi orang yang pintar disekolah, tapi kamu pasti akan selalu berinteraksi dengan orang tua, kakak atau saudara dirumah. Atau mungkin kamu merasa bisa bermain gitar sehingga menjadi seorang yang benar-benar mahir untuk memainkannya, tapi pada akhirnya siapa yang akan mendengarkan kamu bermain nantinya. Atau kamu merasa lebih baik tidak ikut kegiatan organisasi di sekolah, karena merasa hal itu terlalu menyita waktu, sehingga mengganggu jadwal kumpul dengan teman-teman satu grupmu, tapi apakah tidak mungkin nantinya teman-teman dalam satu grup kamu, berkeinginan untuk melanjutkan kuliyah atau bekeja di kota lain dan sebagainya .

Berada dalam suatu zona yang nyaman yang membuat kamu merasa senang dan aman, tidaklah membuat kamu menjadi sosok pribadi yang kuat. Ataupun minatmu dan bagaimana kondisimu, maka semua orang membutuhkan untuk bergaul. Dengan bergaul bukan semata-mata hanya mengenal orang lain, tapi juga akan menambah wawasan, mengembangkan minat dan hal-hal yang sangat menguntungkan, seperti kemajuan komunikasi dan hal-hal baru yang belum kita ketahui. Allah SWT. Telah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya “….. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali pada-KU…” ( Q.S. Luqman : 31 dalam Al-Qur’an dan Terjemahannya, 1998 : ) Ini berarti, bergaul menjadi sesuatu yang sangat penting.

Namun demikian bila mereka terlihat cukup banyak bergaul, apakah mungkin mereka benar-benar bergaul secara efektif sehingga dapat berkembang menjadi pribadi yang utuh dan sukses untuk dapat berkiprah dimasa depannya. Coba bayangkan dahulu, salah satu dari teman main kamu ;
• Apakah dia langsung bisa mengenali surara di telepon?
• Apakah dia mengetahui orang-orang yang kamu kagumi?
• Apakh temanmu selau memberikan info-info yang berharga atau penting bagimu?

Masih banyak hal-hal yang dapat kamu putar lagi dalam ingatan, sehingga kamu dapat menyadari bagaiman kualitas hubunganmu dengan teman-teman di sekitarmu, bahkan untuk teman yang menurut kamu cukup erat atau dekat.

Seringkali orang mengartikan bergaul sama dengan kegiatan bertemu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Pada intinya bergaul adalah kegiatan aktif dalam mencari kesempatan untuk menemukan orang-orang yang menarik untuk diajak membina hubungan, sehingga hal yang terpenting adalah proses yang terjadi, karena dalam bergaul yang mempunyai makna positif, berarti menjaga agar hubungan yang terbina dapat terpelihara dengan baik sehingga pada akhirnya menguntungkan semua pihak yang terlibat.

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “ Orang yang memutuskan (persaudaraan) tidak masuk surga “ (H.R. Bukhari dalam Terjemah Jawahirul Bukhari, 1993 : 583). Dari sini jelas bahwa Rasulullah saw. sangat membenci orang yang memutuskan persaudaraan. Untuk itu ada beberapa prinsip dibawah ini yang dapat kamu ingat dan selalu dipakai sekiranya kamu bermaksud untuk memulai atau memperkuat hubungan yang ada dengan lingkungan pergaulanmu, yang juga pada akhirnya hal tersebut akan bermakna dalam pengembangan dirimu.

1. Berusaha lebih memahami orang lain yang manjadi temanmu.
• Dengan menjadi pendengar yang baik.
• Dengan menunjukkan minat pada orang yang sedang kita ajak bicara.
• Mau menaggapi perasaan-perasaan orang lain dengan tulus dan wajar.
• Menyadari perbedaan-perbadaan yang ada, dari pada sibuk pada pandangan diri sendiri.

2. Mampu mengekpresikan diri dengan jelas.
• Menyampaikan maksud atau perasaanmu dengan jelas dan juga mempertimbangkan orang lain atau tidak menyinggunya.
• Berterus terang tentang keadaan dirimu yang sebenarnya.
• Mau memberikan alasan-alasan perilaku dengan nyata dan tidak bersikap defensif (bertahan)
• Selalu bersikap konsisten.

3. Mau memberi dan menerima masukan.
• Dengan membuat orang lain merasa nyaman untuk mengutarakan pandangan karena kamu menunjukkan sikap keterbukaan.
• Mau memberikan pertimbangan bila diminta.

4. Mampu memberikan pengaruh yang positif pada orang lain.
• Dapat mendukungnya pada kegiatan-kegiatan atau hal-hal yang positif pada diri orang lain dan berterus terang (tanpa membuat ketersinggungan) pada hal-hal yang telah diperbuat oleh teman.

5. Mampu menyelesaikan konflik secara tepat.
• Membuat pilihan-pilihan yang saling menguntungkan.
• Mengambil pendekatan yang positif.
• Memfokuskan pada kepentingan-kepentingan yang ada, bukan mempertahankan posisi keadaan masing-masing.

6. Mau bersikap mengasihi dan menghormati.
• Tidak bersikap menghakimi, sekalipun kamu merasa benar.
• Peduli pada masalah yang dihadapi oleh temanmu dan bersedia membantu sesuai dengan kamampuanmu.

Sedangkan hal-hal dibawah ini sebaiknya kamu hindari, bila kamu tidak ingin dijauhi oleh orang yang dekat denganmu:
1. Bersembunyi atau menarik diri dan berusaha menutup-nutupi identitas yang semestinya boleh diketahui orang lain. ( percya diri dong!)
2. Menceritakan sesuatu secara detail. ( ini bisa membosankan lo! )
3. Monolog, ( ingat kamu sedang menjalin interaksi kan! )
4. Interogasi. (kecuali kamu jadi polisi yang bertugas.)
5. Interupsi, memang susah kalau kita mau menjadi pendengar yang baik tapi hal itu harus diupayakan dengan menahan diri hingga lawan bicaramu selesai.
6. Membuat pernyataaan-pernyatan yang memaksakan kehendak.
7. Suka memberikan nasihat, padahal dia nggak minta. orang akan lebih senang mendapatkan teman bicara untuk berbagi cerita dan pengalaman, dari pada dinasehati terus.
8. Meratap atau merengek, nah pasti bukan simpati yang kamu dapat, tapi pandangan sinis.
9. Membuat janji-janji yang terkadang tidak ditepati. ( wah pasti kamu jadi orang yang tidak dipercaya oleh teman-temanmu.)
10. Sering meminta hal-hal yang sulit dilakukan oleh temanmu, hal ini makin membuat teman-temanmu enggan untuk bertemu.
11. Menceritakan hal-hal yang menjadi kehebatanmu. (pasti dalam beberapa minggu kamu akan ditinggalkan oleh teman-temanmu.)

Read More......

HUMANISME

Humanistik merupakan aliran ketiga dalam ilmu psikologi selain dari aliran Psikoanalisis dan Behaviorisme. Orang yang pertama memproklamirkan aliran humanistik ini ialah Abraham Maslow. Aliran ini menegaskan adanya keseluruhan kapasitas dan martabat serta nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self ralization). Humanisme ini sendiri menentang pesimisme dan keputus asaan menurut pandangan psikoanalitik dan menentang pendangan behavioristik yang menyatakan konsep kehidupan adalah adalah robot yang tergantung kepada lingkungan yang membentuk kepribadian manusia itu sendiri.

Holisme memandang bahwa dalam diri manusia itu sendiri mengandung potendsi untuk berkembang sehat dan kreatif dan apa bila orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri dia akan menyadari potensinya lebih kuat dibandingkan pengaruh yang datang nya dari luar sebagai contoh pendidikan dari orang tuanya , sekolah , dan tekanan sosiallainnya,
Penekanan Humanistik dalam kepribadian menekankan hal-hal sebagai berikut:
Holisme
Organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagaian-bagian yang berdeda-beda. Jiwa dan tubuh bukabn bagian yang terpisahkan melainkan bagian dari satu kesatuan dan apa yang terjadi dibagian satu maka akan mempengaaruhi bagian lain.
Menolak Riset Binatang
Menekankan perbedaan antara tingakahlaku manusia dengan tingkah laku binatang.
Manusia Pada Dasarnya Baik,
Manusia mempunyai struktur psikologik yang analog dengan settruktur fisik mereka memiliki kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik
Potensi kreatif menjadi beberapa sifat menjadi ciri umum kemanusiaan, lainnya bersifat unik individual. Kebutuhan kemampuan,dan kecenderungan itu menjadikan hakekat menusia secara esensial baik.
Potensi Kreatif
Kreativitas merupakan ciri universal manusia sejak dilahirkan, kreatif adalah potensi semua orang yang tidak memerlukan bakat atau kemampuan yang khusus.
Menekankan kesehatan psikologik
Humanistik mendekatkan penelitiannya kepada manusia yang sehat, kreatif dan mampu mengaktualisasikan diri. Ilmujiwa seharusnya memusatkan analisisnya kepada tema pokok kehidupan manusia, yakni aktualisasi diri.

Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com